Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Keputusan AS Tinggalkan 66 Organisasi Internasional Dinilai Untungkan Posisi China di Forum Global

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Keputusan AS Tinggalkan 66 Organisasi Internasional Dinilai Untungkan Posisi China di Forum Global
Foto: (Sumber: Dewan Pakar BPIP Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri Dr. Darmansjah Djumala. ANTARA/HO-BPIP/am.)

Pantau - Keputusan politik Amerika Serikat (AS) untuk keluar dari 66 organisasi internasional dinilai akan menguntungkan posisi China dalam jangka panjang, menurut Dewan Pakar BPIP Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala.

AS diketahui menarik diri dari 31 entitas di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta 35 organisasi internasional non-PBB.

"Turunnya peran AS di dunia internasional akibat keluarnya AS dari beberapa organisasi dunia tidak serta merta akan digantikan oleh China. Tapi keputusan AS itu dalam jangka panjang akan menguntungkan posisi China dalam forum-forum multilateral," ungkapnya.

Alasan dan Dampak Kebijakan Luar Negeri AS

Organisasi-organisasi yang ditinggalkan AS menangani isu-isu penting seperti perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan, tenaga kerja, dan migrasi.

AS berdalih bahwa misi organisasi-organisasi tersebut bertentangan dengan kepentingan nasional mereka, dianggap telah dikuasai oleh negara-negara tertentu yang membawa agenda tersendiri, serta dinilai mengancam kedaulatan dan kemakmuran bangsa Amerika.

Dari aspek kelembagaan, AS menilai banyak organisasi tersebut memiliki cakupan isu yang terlalu luas, tidak lagi relevan bagi kepentingan AS, serta mengalami salah urus dan pemborosan dalam tata kelola.

Djumala, yang juga pernah menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Austria dan PBB, menyebut langkah ini sebagai pergeseran penting dalam kebijakan luar negeri AS.

Kebijakan ini disebut sebagai bagian dari pendekatan unilateralisme dan nasionalisme ekonomi yang kini mendominasi arah kebijakan luar negeri negara tersebut.

AS juga menganggap bahwa banyak organisasi internasional membebani anggaran negara, tidak selaras dengan kepentingan domestik, dan membatasi ruang gerak kebijakan bilateral maupun nasional, terutama dalam isu HAM, lingkungan, kesehatan global, dan tata kelola internasional.

Peluang China dan Dampak Bagi Negara Berkembang

Menurut Djumala, absennya peran AS menimbulkan krisis kepercayaan dalam sistem multilateralisme yang selama ini bergantung pada kepemimpinan negara besar.

Kekosongan peran AS belum otomatis tergantikan oleh negara lain, menyebabkan banyak lembaga internasional kehilangan dorongan politik, serta mengalami penurunan pendanaan dan kapasitas implementasi.

Negara-negara berkembang turut merasakan dampaknya secara langsung, karena mereka selama ini bergantung pada organisasi internasional sebagai sumber bantuan teknis, pendanaan pembangunan, transfer pengetahuan, dan perlindungan normatif dalam isu seperti kesehatan, pendidikan, pangan, pengungsi, dan perubahan iklim.

Berkurangnya kontribusi AS diperkirakan akan menyusutkan berbagai program di atas.

Namun, kondisi ini membuka peluang bagi China untuk memperluas pengaruhnya dalam pengambilan keputusan global.

Bagi negara-negara Global South, ketidakhadiran AS menjadikan China sebagai mitra yang dinilai lebih dapat diandalkan, terutama dalam aspek pembiayaan pembangunan dan proyek infrastruktur.

"Dalam forum internasional, dukungan China sering dipersepsikan lebih pragmatis dan tidak bersyarat secara politik. Dalam jangka panjang, hal ini memperkuat posisi China sebagai aktor sentral dalam membangun konsensus dalam isu-isu pembangunan di berbagai organisasi internasional," ia mengungkapkan.

Penulis :
Gerry Eka