Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

China Tegaskan Dukungan Politik untuk Iran dan Desak Penghentian Operasi Militer di Timur Tengah

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

China Tegaskan Dukungan Politik untuk Iran dan Desak Penghentian Operasi Militer di Timur Tengah
Foto: (Sumber : Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning. /ANTARA/Desca Lidya Natalia..)

Pantau - Kementerian Luar Negeri China menegaskan dukungan politik kepada Iran setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel, namun tidak merinci bentuk dukungan lain yang mungkin diberikan selain dukungan diplomatik.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning menyatakan bahwa negaranya menentang serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran karena dinilai melanggar hukum internasional.

Mao Ning mengatakan, "China menentang serangan militer AS dan Israel terhadap Iran yang melanggar hukum internasional. Kami mendukung Iran dalam menjaga kedaulatan, keamanan, integritas teritorial, dan martabat nasionalnya serta dalam menegakkan hak dan kepentingannya yang sah dan sesuai hukum."

Pernyataan tersebut disampaikan Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing.

Ia menjawab pertanyaan wartawan mengenai pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang menyebut Rusia dan China terus memberikan dukungan politik kepada Iran.

Meski demikian Mao Ning tidak memberikan penjelasan mengenai kemungkinan dukungan lain selain dukungan politik.

China Serukan Penyelesaian Diplomatik

China menegaskan bahwa penyelesaian konflik sebaiknya dilakukan melalui jalur politik dan diplomatik.

Mao Ning menyampaikan, "China selalu menganjurkan penyelesaian masalah melalui cara politik dan diplomatik. Kami menyerukan penghentian segera tindakan militer untuk mencegah konflik menyebar dan meluas serta menghindari eskalasi situasi lebih lanjut."

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.

China menilai semua pihak yang terlibat konflik perlu menjaga keamanan dan stabilitas kawasan termasuk di Selat Hormuz.

Mao Ning menjelaskan, "Selat Hormuz dan perairan sekitarnya merupakan jalur perdagangan internasional yang penting untuk barang dan energi. China mendesak pihak-pihak terkait untuk segera menghentikan operasi militer, menghindari eskalasi lebih lanjut dan mencegah gejolak regional yang dapat menyebabkan kerusakan lebih besar pada pertumbuhan ekonomi global."

China Evakuasi Warga dan Pantau Dampak Konflik

Pemerintah China juga menyampaikan bahwa pihaknya melakukan evaluasi terhadap kondisi warga negaranya yang berada di kawasan Timur Tengah.

Evaluasi dilakukan karena gangguan perjalanan yang terjadi akibat konflik militer di kawasan tersebut.

Mao Ning mengatakan, "Dengan upaya bersama dari berbagai pihak, kemajuan positif telah dicapai. Pada 4 Maret malam, hampir 300 warga negara China tiba dengan selamat di Guangzhou dari Dubai melalui penerbangan internasional."

Ia menambahkan sejumlah maskapai China mulai melanjutkan penerbangan ke negara-negara Timur Tengah.

Maskapai yang kembali mengoperasikan penerbangan antara lain Air China, China Eastern Airlines, China Southern Airlines, dan Hainan Airlines.

Penerbangan tersebut kembali melayani rute ke beberapa negara seperti Uni Emirat Arab, Oman, dan Arab Saudi sejak 5 Maret.

Pemerintah China juga mengingatkan warganya agar menghindari perjalanan ke wilayah yang terdampak konflik militer.

Hal tersebut dilakukan karena situasi di Timur Tengah masih kompleks dan memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi.

Konflik Memanas Setelah Operasi Militer AS dan Israel

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki batas waktu tertentu terkait lamanya perang dengan Iran berlangsung.

Dalam wawancara dengan media di Amerika Serikat, Trump sebelumnya memperkirakan operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran akan berlangsung selama empat hingga lima pekan.

Operasi militer tersebut telah dimulai sejak 28 Februari 2026.

Serangan tersebut menyebabkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Selain itu setidaknya 926 warga sipil dilaporkan tewas akibat operasi militer tersebut.

Trump juga menyebut beberapa tujuan dari operasi militer tersebut.

Tujuan tersebut antara lain mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir dan rudal balistik.

Selain itu juga bertujuan menempatkan seseorang yang dianggap rasional dan waras untuk memimpin Iran.

Trump menegaskan bahwa pihaknya tidak menginginkan sosok calon pemimpin yang akan membangun kembali Iran dalam kurun waktu 10 tahun.

Iran merespons serangan Amerika Serikat dan Israel dengan meluncurkan pesawat tanpa awak serta rudal.

Serangan tersebut menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.

Penulis :
Aditya Yohan