Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Keputusan Bergabung ke Board of Peace Picu Perdebatan, Dipandang Bagian Strategi Multi-Keselarasan Indonesia

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Keputusan Bergabung ke Board of Peace Picu Perdebatan, Dipandang Bagian Strategi Multi-Keselarasan Indonesia
Foto: (Sumber : Presiden RI Prabowo Subianto (kanan) bersalaman dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pertemuan perdana (Inaugural Meeting) Board of Peace (BoP) yang digelar di Donald Trump United States Institute of Peace, Washington, D.C., Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026). ANTARA/HO-Sekretariat Kabinet/am..)

Pantau - Keputusan Indonesia untuk bergabung dalam forum internasional Board of Peace memunculkan beragam respons di ruang publik di tengah dinamika geopolitik global yang terus berubah.

Sebagian kalangan menilai langkah tersebut sebagai strategi diplomatik yang wajar, namun ada pula pihak yang mempertanyakan keputusan itu dan mengaitkannya dengan sikap moral Indonesia terhadap isu Palestina.

Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia tidak lagi dipahami semata sebagai urusan diplomasi antarnegara, melainkan juga menjadi arena interpretasi politik domestik.

Dalam situasi ini, pertanyaan yang muncul bukan hanya mengenai tepat atau tidaknya keputusan bergabung, tetapi juga alasan strategis di balik langkah tersebut.

Langkah Indonesia bergabung dengan Board of Peace dinilai perlu dilihat dalam konteks perubahan struktur politik internasional menuju konfigurasi multipolar.

Dominasi tunggal yang sebelumnya menguat pasca Perang Dingin disebut mulai mengalami erosi seiring munculnya kekuatan baru dalam ekonomi dan politik global.

Rivalitas antara Amerika Serikat dan China disebut turut membentuk ulang peta kekuasaan internasional.

Dalam situasi tersebut, negara menengah seperti Indonesia menghadapi tantangan menjaga otonomi strategis tanpa terjebak dalam rivalitas blok kekuatan besar.

Pendekatan realisme dalam kajian hubungan internasional memandang negara bertindak berdasarkan kepentingan nasional dan kalkulasi kekuatan dalam sistem internasional yang anarkis.

Sementara pendekatan neoclassical realism melihat kebijakan luar negeri sebagai hasil interaksi antara tekanan sistem internasional dan pertimbangan domestik para elite negara.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia dinilai tidak hanya aktif dalam forum tradisional seperti ASEAN dan G20, tetapi juga memperluas jejaring diplomasi melalui berbagai platform global baru.

Salah satu contohnya adalah keterlibatan Indonesia dalam BRICS yang disebut sebagai organisasi beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan.

Keputusan tersebut bahkan sempat menarik perhatian Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyoroti implikasi geopolitik dari langkah itu.

Bergabungnya Indonesia ke Board of Peace dipandang sebagai bagian dari pola diplomasi yang lebih luas dalam menyesuaikan diri dengan perubahan struktur politik internasional.

Dalam konteks ini, politik bebas aktif tidak lagi dipahami sekadar menjaga netralitas, tetapi ditafsirkan sebagai strategi multi-keselarasan yang memungkinkan Indonesia berinteraksi dengan berbagai pusat kekuatan global sekaligus.

Penulis :
Ahmad Yusuf