
Pantau - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa negaranya siap kembali menjadi mediator dalam sengketa antara Mesir dan Ethiopia terkait pembagian air Sungai Nil.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui surat resmi kepada Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, pada Jumat, 16 Januari.
Dalam surat tersebut, Trump menegaskan bahwa Sungai Nil adalah sumber daya vital bagi Mesir dan menekankan pentingnya perlindungan atas kebutuhan air jangka panjang tidak hanya untuk Mesir, tetapi juga untuk Sudan dan Ethiopia.
"Amerika Serikat menegaskan tidak ada satu negara pun di kawasan ini yang boleh secara sepihak menguasai sumber daya berharga Sungai Nil dan merugikan negara-negara tetangganya," ungkapnya dalam surat tersebut.
Trump menyebut bahwa penyelesaian sengketa mengenai Bendungan Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD) merupakan salah satu prioritas utama pemerintahannya.
Latar Belakang Sengketa GERD
Sengketa antara Mesir dan Ethiopia berpusat pada pembangunan Bendungan GERD di Sungai Nil Biru, anak Sungai Nil yang menjadi sumber utama pasokan air ke Mesir.
Mesir khawatir bahwa pengisian dan pengoperasian bendungan tersebut akan mengurangi jumlah air yang mengalir ke negaranya, yang sangat bergantung pada Sungai Nil untuk kebutuhan domestik dan pertanian.
Di sisi lain, Ethiopia menegaskan bahwa bendungan GERD sangat penting untuk memenuhi kebutuhan energi dan pembangunan nasional mereka.
Trump menekankan bahwa konflik yang berlarut-larut ini tidak boleh berkembang menjadi konfrontasi militer antara negara-negara yang terlibat.
Upaya Diplomatik yang Berlanjut
Surat Trump menandakan upaya Amerika Serikat untuk kembali mengambil peran aktif dalam mediasi setelah sebelumnya turut memfasilitasi perundingan antara ketiga negara namun belum menghasilkan kesepakatan final.
Trump berharap semua pihak dapat menempuh jalur diplomasi yang adil dan saling menguntungkan guna memastikan keberlanjutan dan stabilitas kawasan.
- Penulis :
- Shila Glorya







