Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Menlu Iran Buka Peluang Dialog Nuklir dengan AS, Tegaskan Perlu Pemulihan Kepercayaan dan Penolakan Agenda Tambahan

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Menlu Iran Buka Peluang Dialog Nuklir dengan AS, Tegaskan Perlu Pemulihan Kepercayaan dan Penolakan Agenda Tambahan
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Konflik Iran vs Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py.)

Pantau - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa perundingan nuklir yang bermakna dengan Amerika Serikat masih memungkinkan, asalkan kepercayaan Iran dapat dipulihkan melalui langkah konkret.

Iran Tegaskan Dialog Masih Terbuka, Tapi Kepercayaan Jadi Kunci

Dalam wawancara eksklusif dengan CNN International, Araghchi mengingatkan bahwa konfrontasi militer dalam bentuk apa pun dapat melebar dan menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam ketidakstabilan yang lebih luas.

Menurutnya, ancaman terbesar bukanlah perang itu sendiri, melainkan risiko salah perhitungan akibat informasi yang keliru serta tekanan dari pihak luar yang dapat memicu eskalasi konflik.

"Iran telah kehilangan kepercayaan terhadap Amerika Serikat sebagai mitra perundingan," ungkap Araghchi.

Namun, ia menyebut beberapa negara di kawasan berperan sebagai perantara yang membantu menyampaikan pesan dan membangun kembali komunikasi diplomatik.

Ia menilai komunikasi yang tengah berlangsung bersifat produktif dan dapat menjadi dasar menuju dialog yang lebih substansial.

Araghchi juga menekankan bahwa fokus utama seharusnya pada isi perundingan, bukan pada format komunikasi, baik dilakukan secara langsung maupun tidak langsung.

Tegaskan Komitmen Non-Senjata Nuklir, Tolak Bahasan Rudal dan Sekutu Regional

Menanggapi tujuan Presiden AS Donald Trump untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir, Araghchi menyatakan bahwa Teheran sependapat.

Namun, ia menyebut pencabutan sanksi harus menjadi imbalan utama untuk komitmen tersebut.

Ia menolak upaya memperluas agenda perundingan ke isu lain seperti program rudal balistik dan kelompok sekutu Iran di kawasan.

"Perunding seharusnya tidak mengejar hal yang tidak mungkin," ujarnya.

Terkait potensi perang, Araghchi memperingatkan bahwa konflik militer akan menjadi bencana bagi semua pihak karena jaringan pangkalan militer AS di kawasan dapat menyeret banyak negara ke dalamnya.

Ia menyatakan Iran telah belajar dari konflik sebelumnya dengan Israel dan menguji sistem rudal dalam pertempuran nyata untuk memahami kapabilitasnya.

Meski menyatakan Iran siap, ia menegaskan kesiapan itu bukan berarti keinginan untuk berperang.

Menjawab kekhawatiran Donald Trump mengenai tahanan di Iran, Araghchi membantah kabar adanya rencana hukuman mati terkait kerusuhan terbaru dan memastikan bahwa hak-hak para tahanan akan dihormati dan dijamin sesuai hukum.

Penulis :
Gerry Eka