Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Iran dan AS Gelar Putaran Kedua Pembicaraan Tidak Langsung di Jenewa di Tengah Ancaman Militer

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Iran dan AS Gelar Putaran Kedua Pembicaraan Tidak Langsung di Jenewa di Tengah Ancaman Militer
Foto: (Sumber: Presiden AS Donald Trump (kanan) menyambut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih di Washington, D.C., Amerika Serikat, 11 Februari 2026. ANTARA/Xinhua/ HO Avi Ohayon/GPO.)

Pantau - Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi bertolak ke Jenewa, Swiss, pada Minggu 15 Februari untuk menghadiri putaran kedua pembicaraan tidak langsung antara Teheran dan Washington yang dijadwalkan berlangsung Selasa 17 Februari di tengah perbedaan tajam terkait bentuk kesepakatan.

Araghchi akan memimpin delegasi "diplomatik dan khusus" dalam pertemuan tersebut.

Ia dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Swiss Ignazio Cassis, Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi, serta Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional Rafael Grossi.

Menurut laporan media, utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, akan memimpin delegasi Amerika Serikat.

Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari putaran pertama di Muscat, Oman, pada 6 Februari yang oleh kedua pihak disebut sebagai "awal yang baik" namun belum menghasilkan terobosan konkret.

Menjelang pertemuan Jenewa, pejabat Iran menyatakan sikap terbuka secara bersyarat namun tetap menegaskan batasan tegas.

Dalam wawancara dengan BBC, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi mengatakan, "Bola ada di tangan Amerika untuk membuktikan bahwa mereka ingin membuat kesepakatan,".

Ia mengonfirmasi Iran dapat mendiskusikan pengayaan uranium hingga 60 persen sebagai bentuk fleksibilitas, tetapi menolak penghentian total pengayaan di wilayahnya.

Takht-Ravanchi menegaskan, "Ini tidak lagi menjadi opsi," serta menyatakan program rudal Iran tidak dapat dinegosiasikan.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk diplomasi ekonomi Hamid Ghanbari menyampaikan pembicaraan sebelumnya juga membahas potensi investasi bersama di sektor energi dan pertambangan serta kemungkinan pembelian pesawat buatan AS.

Ia menegaskan kesepakatan harus menjamin pembebasan aset-aset Iran yang dibekukan secara "nyata dan dapat digunakan" serta menyatakan Iran menginginkan "kesepakatan serius" namun tidak akan menerima penghentian total pengayaan uranium.

Kepala staf angkatan bersenjata Iran Abdolrahim Mousavi mempertanyakan, "Jika Trump ingin berperang dengan Iran, mengapa dia berbicara tentang negosiasi?" dan menyatakan konflik akan "memberinya pelajaran" serta mengakhiri "gertakannya.".

Dari Washington, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, "Tidak ada yang pernah bisa membuat kesepakatan yang sukses dengan Iran, tetapi kami akan mencobanya," dalam konferensi pers di Bratislava.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan Trump "bertekad untuk mengeksplorasi semua kemungkinan guna mencapai kesepakatan, yang diyakininya dapat tercapai sekarang.".

Namun Trump menyatakan jika negosiasi gagal, "Kita harus beralih ke tahap kedua. Tahap dua akan sangat sulit bagi mereka.".

Pada Jumat 13 Februari, Trump mengumumkan kapal induk USS Gerald R. Ford diperintahkan bergabung dengan USS Abraham Lincoln dan tiga kapal perusak berpeluru kendali di Timur Tengah.

CBS News melaporkan adanya diskusi internal pejabat AS mengenai dukungan terhadap kemungkinan operasi Israel, termasuk "penyediaan pengisian bahan bakar di udara bagi pesawat Israel dan masalah sensitif terkait izin terbang dari negara-negara di sepanjang rute potensial.".

Netanyahu menegaskan setiap kesepakatan harus mencakup penghapusan material nuklir, penghentian pengayaan uranium, serta pembatasan rudal balistik dan menyampaikan keraguannya "tentang kesepakatan apa pun dengan Iran.".

Dengan pengerahan kapal perang AS dan pernyataan keras dari berbagai pihak, putaran kedua pembicaraan di Jenewa menjadi ujian penting apakah diplomasi masih dapat menjadi jalan keluar atau justru memicu konfrontasi lebih luas.

Penulis :
Aditya Yohan