Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Kim Jong Un Tegaskan Siap Konfrontasi atau Damai dengan AS, Hubungan Bergantung pada Sikap Washington

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Kim Jong Un Tegaskan Siap Konfrontasi atau Damai dengan AS, Hubungan Bergantung pada Sikap Washington
Foto: Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di zona demiliterisasi yang memisahkan dua Korea, di Panmunjom, Korea Selatan, Minggu 30/6/2019 (sumber: REUTERS/Kevin Lamarque)

Pantau - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyatakan Pyongyang siap memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat apabila Washington menghentikan sikap permusuhannya terhadap Korea Utara.

Pernyataan itu disampaikan Kim dalam kongres Partai Pekerja Korea yang digelar lima tahun sekali dan ditutup dengan parade militer pada Rabu malam di Pyongyang.

Kim menghadiri agenda tersebut bersama putrinya yang diyakini bernama Kim Ju Ae dan telah berusia remaja berdasarkan laporan Korean Central News Agency (KCNA).

Dalam laporan kebijakan lima tahun terakhir, Kim mengatakan, "kita sepenuhnya siap menghadapi konfrontasi dengan AS di masa depan."

Ia menilai bahwa Washington hingga saat ini "masih belum mengubah pandangan permusuhan aslinya" terhadap Pyongyang.

Kim menegaskan bahwa apabila Amerika Serikat menghentikan permusuhannya, maka "tidak ada lagi alasan kita tidak berhubungan dengan baik."

Ia menyatakan bahwa potensi terjalinnya hubungan bilateral sepenuhnya bergantung pada sikap Amerika Serikat.

Kim juga mengatakan, "Koeksistensi damai ataupun konfrontasi abadi, kita siap menghadapi segalanya, dan pilihan tersebut tidak ditentukan oleh kita."

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam berbagai kesempatan menegaskan kesiapannya untuk memulai kembali dialog dengan Kim sejak kembali menjabat pada Januari tahun lalu.

Kim dan Trump tercatat pernah bertemu tiga kali pada periode 2018 hingga 2019, namun perundingan nuklir kedua negara tidak berlanjut.

Dalam pidatonya, Kim menegaskan "tekad teguh partai kita untuk semakin memperluas dan meningkatkan kekuatan nuklir nasional" sebagai bagian dari strategi deterensi nasional.

Hubungan dengan Korea Selatan Memanas

Terkait hubungan antar-Korea, Kim menegaskan bahwa Pyongyang tidak akan pernah mengakui Seoul sebagai saudara sebangsa.

Korea Utara akan terus menganggap Seoul sebagai "negara yang sangat bermusuhan dan musuh abadi."

Ia menolak pendekatan rekonsiliasi Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dan menyebutnya sebagai "lelucon yang kikuk dan menipu serta langkah yang buruk."

Sejak menjabat pada Juni tahun lalu, Lee mengambil langkah untuk meredakan ketegangan dan mengakhiri kebijakan konfrontatif pendahulunya, Yoon Suk Yeol.

Kim memperingatkan bahwa Korea Utara dapat melancarkan respons apa pun apabila Korea Selatan mengganggu keamanan mereka.

Ia juga menyatakan bahwa pihaknya tidak dapat mengesampingkan kemungkinan "kehancuran total" terhadap Korea Selatan.

Pada Kamis sebelumnya, Kementerian Unifikasi Korea Selatan menyampaikan keprihatinan mendalam atas keputusan Pyongyang yang terus menganggap Seoul sebagai negara musuh.

Pemerintah Seoul menegaskan akan tetap bersabar dan konsisten mendukung koeksistensi damai di Semenanjung Korea.

Parade Militer dan Sikap terhadap Jepang

Dalam laporan tersebut, Kim tidak menyinggung kebijakan Pyongyang terhadap Jepang.

Berdasarkan laporan dan foto yang disiarkan KCNA, parade militer di Lapangan Kim Il Sung tidak menampilkan senjata berskala besar seperti rudal balistik antarbenua.

Personel militer Korea Utara yang ditugaskan membantu Rusia dalam perang melawan Ukraina dilaporkan turut ambil bagian dalam parade tersebut.

Penulis :
Leon Weldrick