
Pantau - Rektor Universitas Indonesia Prof. Heri Hermansyah menyerukan transformasi pendidikan tinggi di kawasan Asia-Pasifik saat menjadi pembicara dalam President’s Dialogue Session pada konferensi tahunan Asia-Pacific Association for International Education (APAIE) 2026 yang digelar pada 23–27 Februari 2026 di Hong Kong Convention and Exhibition Centre, Hong Kong.
Seruan tersebut disampaikan di hadapan sekitar 2.500 delegasi dari lebih dari 65 negara dan wilayah yang terdiri atas para pemimpin pendidikan tinggi, pembuat kebijakan, serta profesional industri pendidikan internasional.
Dalam forum tersebut, Prof. Heri menekankan pentingnya adaptabilitas dan integritas pendidikan tinggi untuk menghadapi era disrupsi global.
Ia menyatakan bahwa "Bahwa disrupsi akibat percepatan teknologi, perubahan iklim, dinamika geopolitik, dan ketidakpastian ekonomi telah menjadi keniscayaan global. Oleh karena itu perguruan tinggi tidak lagi cukup berperan sebagai penyampai pengetahuan, melainkan harus mampu membekali mahasiswa dengan kapasitas untuk menghadapi tantangan yang terus berubah," ungkapnya.
Menurutnya, pernyataan tersebut menegaskan bahwa perguruan tinggi harus mengubah perannya tidak hanya sebagai pusat transfer ilmu, tetapi juga sebagai institusi yang membentuk kesiapan mahasiswa menghadapi perubahan yang cepat dan tidak menentu.
Ia juga menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus melampaui model tradisional.
Ia menyampaikan "Kita perlu menyiapkan mahasiswa bukan hanya untuk profesi hari ini, tetapi untuk tantangan masa depan yang bahkan belum terdefinisikan," tegasnya.
Tiga Kapasitas Utama Hadapi Disrupsi
Dalam membangun sistem pendidikan yang tangguh, Prof. Heri menekankan tiga kapasitas utama yang perlu dikembangkan untuk menghadapi masa depan.
Kapasitas pertama adalah adaptabilitas yang mencakup kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta resiliensi mahasiswa dalam menghadapi perubahan.
Kapasitas kedua adalah pergeseran menuju pembelajaran berbasis pengalaman dan pembelajaran sepanjang hayat.
Pembelajaran sepanjang hayat tersebut meliputi penguatan project-based learning, peningkatan kolaborasi dengan industri, perluasan mobilitas global, serta pengembangan ekosistem re-skilling dan up-skilling yang berkelanjutan.
Kapasitas ketiga adalah tanggung jawab yakni memastikan bahwa pertumbuhan dan inovasi tetap sejalan dengan prinsip keberlanjutan serta inklusi sosial.
Kolaborasi Global Ubah Disrupsi Jadi Peluang
Prof. Heri menilai kekuatan universitas terletak pada keberagaman dan dinamismenya dalam merespons perubahan zaman.
Ia menyatakan bahwa melalui kolaborasi regional dan internasional yang lebih erat, inovasi bersama, serta investasi dalam ekosistem pembelajaran sepanjang hayat, perguruan tinggi dapat mengubah disrupsi menjadi peluang strategis.
Ia menegaskan bahwa "Tujuan pendidikan tinggi bukan semata menghasilkan lulusan yang siap kerja, tetapi membentuk inovator yang lincah dan warga global yang berintegritas," pungkasnya.
- Penulis :
- Arian Mesa







