Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Spanyol Berpotensi Kehilangan Hampir Separuh Impor LNG jika AS Putus Hubungan Dagang

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Spanyol Berpotensi Kehilangan Hampir Separuh Impor LNG jika AS Putus Hubungan Dagang
Foto: (Sumber : Ilustrasi - Serangan Amerika Serikat dan Israel di wilayah pemukiman penduduk Iran. ANTARA/Anadolu/py..)

Pantau - Spanyol berpotensi kehilangan hampir separuh impor gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) jika Amerika Serikat memutus hubungan perdagangan dengan negara tersebut.

Perhitungan tersebut dibuat oleh RIA Novosti berdasarkan data dari badan statistik Uni Eropa Eurostat.

Analisis tersebut merujuk pada pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa, 3 Maret, yang menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengakhiri seluruh perdagangan dengan Spanyol.

Keputusan tersebut dikaitkan dengan penolakan Spanyol terhadap penggunaan pangkalan militernya oleh Amerika Serikat untuk menyerang Iran.

Trump juga menjadikan keengganan Spanyol meningkatkan belanja pertahanan sebagai alasan untuk mengakhiri hubungan perdagangan.

Ketergantungan Energi Spanyol terhadap AS

Data Uni Eropa menunjukkan bahwa Spanyol meningkatkan impor LNG dari Amerika Serikat lebih dari dua kali lipat pada 2025.

Nilai impor LNG tersebut mencapai 3,7 miliar euro pada 2025.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Porsi gas dari Amerika Serikat dalam total impor energi Spanyol juga naik menjadi sekitar 45 persen.

Selain LNG, Spanyol juga bergantung pada Amerika Serikat untuk 17,3 persen impor minyak pada 2025.

Spanyol juga mengandalkan Amerika Serikat untuk 77,3 persen impor obat-obatan.

Selain itu, Amerika Serikat memasok sekitar 45,5 persen kebutuhan jagung Spanyol.

Perbedaan Pernyataan Washington dan Madrid

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan bahwa pemerintah Spanyol mulai bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam beberapa jam terakhir setelah sebelumnya menolak penggunaan pangkalan militer oleh Amerika Serikat.

Dalam pernyataan tersebut disebutkan bahwa kerja sama mulai dilakukan dalam "beberapa jam terakhir".

Namun Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albarez membantah klaim tersebut.

Ia menyatakan bahwa posisi pemerintah Spanyol tidak berubah terkait kebijakan tersebut.

Penulis :
Ahmad Yusuf