
Pantau - Harga energi di Belanda melonjak tajam setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Lonjakan harga tersebut mendorong sejumlah pemasok energi di Belanda untuk menyesuaikan bahkan menarik kontrak energi dengan harga tetap guna mengurangi risiko di tengah volatilitas pasar.
Kenaikan biaya energi ini juga langsung berdampak pada meningkatnya biaya hidup rumah tangga serta memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi pada tahun-tahun mendatang.
Harga Energi dan Bahan Bakar Melonjak
Kontrak berjangka gas alam Title Transfer Facility Belanda untuk pengiriman April naik 3,27 persen menjadi 50,37 euro per megawatt-jam pada Kamis 5 Maret.
Sebelumnya pada Jumat 27 Februari harga kontrak tersebut berada di level 31,96 euro per megawatt-jam.
Perubahan tersebut menunjukkan lonjakan harga sebesar 57,6 persen dalam empat hari perdagangan berturut-turut.
Kenaikan juga terjadi pada harga bahan bakar di stasiun pengisian bahan bakar umum.
Harga bensin Esso Euro95 naik menjadi 2,35 euro per liter pada Kamis.
Harga tersebut meningkat 12 sen dibandingkan dengan harga pada Jumat pekan sebelumnya.
Harga solar Esso juga naik sebesar 30 sen menjadi 2,33 euro per liter.
Harga solar tersebut hanya terpaut empat sen dari rekor tertinggi yang pernah tercatat pada 2022.
Lonjakan harga energi terjadi setelah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu 28 Februari.
Peristiwa tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global dari kawasan Timur Tengah.
Saat ini pengiriman berbagai bahan bakar utama menghadapi ketidakpastian di pasar global.
Gas alam cair dari Qatar termasuk salah satu pasokan yang berpotensi terdampak.
Minyak mentah dari Arab Saudi juga berada dalam situasi ketidakpastian pasokan.
Selain itu diesel dari Kuwait dan minyak tanah dari Uni Emirat Arab juga menghadapi ketidakpastian yang meningkat.
Eropa diketahui memperoleh sebagian besar bahan bakar tersebut dari kawasan Timur Tengah.
Kontrak Energi Ditarik dan Inflasi Diperkirakan Naik
Menghadapi kenaikan biaya pengadaan energi yang cepat banyak pemasok energi di Belanda mulai menyesuaikan penawaran kontrak mereka.
Sebagian besar perusahaan energi menaikkan harga kontrak energi jangka tetap.
Beberapa perusahaan lainnya memilih untuk sementara menarik kontrak jangka panjang tetap untuk membatasi risiko.
Platform perbandingan layanan energi Overstappen.nl melaporkan bahwa sejumlah penyedia layanan telah menaikkan tarif dan mengurangi insentif cashback bagi pelanggan baru.
Pada saat yang sama beberapa kontrak jangka panjang juga telah dihapus dari situs web mereka.
Rick Boenink, pakar energi di Overstappen.nl, mengatakan, "Situasi ini mengingatkan kita pada periode awal perang di Ukraina, ketika harga energi juga melonjak tajam."
Ia menambahkan, "Saat itu, bahkan untuk sementara waktu tidak mungkin untuk menandatangani kontrak energi dengan harga tetap."
Data dari Overstappen.nl menunjukkan biaya energi bulanan rata-rata untuk rumah tangga beranggotakan dua orang yang menandatangani kontrak jangka tetap baru meningkat sekitar 36 euro dalam satu pekan.
Jika sebelumnya rumah tangga Belanda membayar sekitar 153 euro per bulan untuk energi kini biaya tersebut meningkat menjadi sekitar 189 euro per bulan.
Rabobank menyatakan kenaikan biaya energi kemungkinan akan mendorong inflasi naik dalam beberapa tahun ke depan.
Rabobank memperkirakan inflasi Belanda akan mencapai rata-rata 2,7 persen pada 2026.
Inflasi tersebut diperkirakan akan menurun menjadi sekitar 2,1 persen pada 2027.
Dalam laporan Rabobank disebutkan, "Ini berarti inflasi pada 2026 akan sekitar 0,3 poin persentase lebih tinggi daripada inflasi pada Januari 2026, yang menggambarkan betapa kuatnya perkembangan geopolitik dapat memengaruhi tekanan harga domestik."
Biaya energi yang lebih tinggi juga meningkatkan biaya produksi bagi para produsen.
Kenaikan biaya produksi tersebut sering kali diteruskan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga makanan, barang industri, dan berbagai produk lainnya.
Fenomena ini dikenal sebagai efek putaran kedua yang biasanya muncul setelah jeda waktu tertentu sejak terjadi guncangan harga energi.
Dalam jangka pendek kenaikan biaya energi diperkirakan akan melemahkan daya beli rumah tangga.
Penurunan daya beli tersebut berpotensi mengurangi konsumsi swasta.
Dunia usaha juga diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam melakukan investasi.
Hal tersebut disebabkan oleh meningkatnya biaya operasional serta memburuknya ketidakpastian geopolitik.
Besarnya dampak ekonomi bagi Eropa dan Belanda akan sangat bergantung pada durasi konflik dan tingkat eskalasi ketegangan di Timur Tengah.
Faktor-faktor tersebut pada akhirnya akan menentukan berapa lama perekonomian Belanda harus menghadapi kenaikan harga energi dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi.
- Penulis :
- Arian Mesa







