Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Serangan Kilang Minyak di Timur Tengah Picu Kekhawatiran PBB atas Krisis Lingkungan, Energi, dan Kemanusiaan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Serangan Kilang Minyak di Timur Tengah Picu Kekhawatiran PBB atas Krisis Lingkungan, Energi, dan Kemanusiaan
Foto: (Sumber : Asap membubung setelah serangan udara Israel di Teheran, Iran, pada 7 Maret 2026. ANTARA/Xinhua/Shadati..)

Pantau - Para pejabat kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan kekhawatiran bahwa serangan terhadap kilang minyak di Timur Tengah dapat menimbulkan dampak lingkungan serius yang berpotensi memengaruhi akses masyarakat terhadap air bersih serta kesehatan publik di kawasan tersebut.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan atau OCHA menyampaikan bahwa kekhawatiran tersebut muncul di tengah laporan serangan terhadap fasilitas desalinasi air di beberapa negara.

"Hal ini terjadi di tengah laporan serangan terhadap fasilitas desalinasi air di beberapa negara," ungkap OCHA.

Menurut OCHA, kawasan Timur Tengah sebenarnya sudah menghadapi kebutuhan kemanusiaan yang sangat besar bahkan sebelum eskalasi konflik terbaru terjadi.

Lonjakan Harga Minyak dan Dampaknya bagi Operasi Kemanusiaan

Harga minyak dunia juga dilaporkan telah melampaui 100 dolar AS per barel sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Kepala juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Stephane Dujarric, mengatakan kenaikan harga minyak akan memengaruhi berbagai sektor termasuk operasi kemanusiaan internasional.

"akan berdampak pada segalanya ... termasuk operasi PBB", kata Dujarric.

Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga energi memengaruhi operasi logistik PBB dan meningkatkan biaya pangan untuk bantuan kemanusiaan.

Harga pupuk yang diperlukan untuk memproduksi pangan bantuan juga ikut terdampak oleh lonjakan harga energi global.

"Ini sekali lagi menegaskan ketergantungan kita pada bahan bakar fosil, yang pasokannya terkonsentrasi hanya di beberapa kawasan dunia. Dan ini juga seharusnya menjadi kesempatan untuk menggandakan upaya kita dalam mengembangkan energi terbarukan," ujar Dujarric.

Krisis Kemanusiaan di Lebanon dan Gaza Kian Memburuk

OCHA juga melaporkan bahwa perintah evakuasi masih berlaku di wilayah Lebanon selatan dan pinggiran selatan Beirut sehingga memaksa banyak warga sipil meninggalkan rumah mereka.

Lebih dari 115.000 orang kini berlindung di lebih dari 500 pusat penampungan kolektif.

Selain itu lebih dari 500.000 warga telah terdaftar sebagai pengungsi akibat konflik yang berlangsung.

Layanan kesehatan juga terdampak setelah lima rumah sakit dan puluhan pusat layanan kesehatan primer dilaporkan menghentikan operasinya.

"Situasi kemanusiaan memburuk dengan cepat. Deeskalasi segera sangat dibutuhkan," kata OCHA.

OCHA menegaskan bahwa semua pihak harus menghormati hukum kemanusiaan internasional serta melindungi warga sipil, fasilitas kesehatan, dan personel kemanusiaan.

Lembaga tersebut juga menekankan pentingnya memastikan akses yang aman dan berkelanjutan bagi organisasi kemanusiaan yang beroperasi di wilayah konflik.

Meski sumber daya terbatas, OCHA bersama para mitra kemanusiaan tetap berupaya merespons kebutuhan yang terus meningkat namun membutuhkan dukungan internasional.

Ketegangan Militer dan Hambatan Bantuan di Gaza

Pasukan penjaga perdamaian PBB di sepanjang Garis Biru yang memisahkan Lebanon dan Israel juga melaporkan adanya baku tembak selama akhir pekan.

Baku tembak tersebut melibatkan peluncuran roket ke arah Israel serta serangan udara dan artileri Israel.

Pasukan penjaga perdamaian juga mengamati penyusupan pasukan Israel ke wilayah Lebanon termasuk keberadaan satu tank Pasukan Pertahanan Israel di dekat Kunin di Lebanon tenggara.

Lokasi tersebut berada sekitar tujuh kilometer di utara Garis Biru yang menjadi garis pemisah kedua wilayah.

OCHA juga menyatakan penutupan perlintasan di sepanjang perimeter Jalur Gaza terus menghambat operasi kemanusiaan.

Penutupan perlintasan Zikim memaksa pekerja bantuan mengalihkan pasokan penting menuju Gaza utara melalui perlintasan selatan Kerem Shalom.

Kerem Shalom saat ini menjadi satu-satunya titik penyeberangan yang masih beroperasi menuju Gaza.

Rute alternatif tersebut lebih panjang dan lebih mahal sehingga meningkatkan ketergantungan pada bahan bakar yang langka di Gaza.

Pergerakan bantuan juga harus melewati jalan-jalan yang rusak akibat konflik.

Keberangkatan pasien dari Gaza yang membutuhkan evakuasi medis masih ditangguhkan.

Kepulangan warga Palestina dari luar negeri juga masih belum dapat dilakukan.

Penulis :
Ahmad Yusuf