Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Ekonom Trimegah Nilai Pelemahan Rupiah Mendekati Rp17.000 per Dolar AS Hanya Sementara

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Ekonom Trimegah Nilai Pelemahan Rupiah Mendekati Rp17.000 per Dolar AS Hanya Sementara
Foto: (Sumber : Ilustrasi - Petugas menghitung uang dolar AS. ANTARA FOTO/Muhammad Ramdan/tom.)

Pantau - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat hanya bersifat sementara karena lebih dipengaruhi dinamika global dibandingkan kondisi fundamental ekonomi domestik.

Ia menjelaskan bahwa dalam kondisi guncangan global, pasar keuangan biasanya bereaksi lebih cepat dibandingkan fundamental ekonomi yang sebenarnya.

"Dalam kondisi shock global seperti sekarang, pasar keuangan biasanya bereaksi lebih cepat daripada fundamental ekonomi. Karena itu kita sering melihat rupiah bergerak melemah lebih dulu", ungkapnya.

Pada pembukaan perdagangan di Jakarta pada Selasa, nilai tukar rupiah tercatat menguat sebesar 63 poin atau sekitar 0,37 persen.

Dengan penguatan tersebut, rupiah berada di level Rp16.886 per dolar Amerika Serikat.

Fundamental Ekonomi Dinilai Masih Kuat

Fakhrul Fulvian menjelaskan bahwa sejumlah indikator dasar ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam kondisi yang relatif baik.

Beberapa indikator tersebut antara lain pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga, tingkat inflasi yang masih terkendali, serta stabilitas sektor keuangan yang dinilai masih baik.

"Kalau kita melihat indikator dasar ekonomi, pertumbuhan yang masih terjaga, inflasi yang relatif terkendali, dan stabilitas sektor keuangan yang masih baik, sebenarnya fondasi ekonomi Indonesia masih cukup kuat", ungkapnya.

Ia juga menilai bahwa dalam beberapa periode sebelumnya rupiah sering mampu kembali menguat setelah mengalami pelemahan yang cukup dalam.

Menurutnya, hal tersebut biasanya terjadi ketika tekanan eksternal mulai mereda dan sentimen global kembali stabil.

"Pasar keuangan sering bergerak terlalu jauh dalam satu arah. Dalam beberapa episode sebelumnya kita melihat rupiah bisa overshoot lebih dulu, tetapi ketika sentimen global mulai stabil dan arus dolar kembali masuk, penguatannya juga bisa cukup cepat", ungkapnya.

Kebijakan Devisa Hasil Ekspor Dinilai Tepat

Fakhrul Fulvian menilai langkah pemerintah dalam memperkuat kebijakan Devisa Hasil Ekspor merupakan langkah yang tepat untuk memperkuat likuiditas valuta asing di dalam negeri.

Kebijakan tersebut dinilai penting karena dapat meningkatkan ketersediaan valuta asing di dalam negeri sekaligus membuat struktur pasar valuta asing Indonesia menjadi lebih dalam dan stabil.

Dengan adanya kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor di dalam negeri, pasar valuta asing nasional diharapkan menjadi lebih kuat dalam menghadapi tekanan global.

Namun demikian, ia menekankan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah tidak hanya bergantung pada satu kebijakan saja.

"Ketika harga energi naik dan tekanan global meningkat, ruang untuk pelonggaran kebijakan biasanya menjadi lebih sempit. Karena itu pasar juga akan menunggu bagaimana koordinasi kebijakan fiskal dan moneter berjalan ke depan", ungkapnya.

Fakhrul Fulvian menilai koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia.

Ia juga mengingatkan bahwa tekanan terhadap rupiah bisa menjadi lebih berkepanjangan apabila gejolak global berlangsung terlalu lama.

"Dalam sejarahnya, rupiah memang sering mengalami tekanan lebih dulu ketika dunia sedang bergejolak. Tetapi ketika tekanan eksternal mulai mereda dan pasar kembali melihat fundamental ekonomi dengan lebih jernih, rupiah juga memiliki kemampuan untuk pulih lebih cepat daripada yang banyak orang perkirakan", ungkapnya.

Penulis :
Aditya Yohan
Editor :
Tria Dianti