
Pantau - Pemerintah Amerika Serikat menegaskan tidak akan membatasi ekspor minyak dan gas meski konflik militer dengan Iran memanas dan berdampak pada gangguan pasokan energi global.
Keputusan itu disampaikan Menteri Energi AS Chris Wright di Washington pada Kamis waktu setempat di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
"Agar jelas, pemerintahan Trump tidak memiliki rencana untuk menerapkan pembatasan ekspor minyak dan gas," tulis Wright di X.
Ia juga mengungkapkan bahwa kebijakan Presiden Donald Trump telah menjadikan Amerika Serikat sebagai produsen utama minyak dan gas alam dunia.
Dampak Konflik dan Gangguan Selat Hormuz
Eskalasi konflik dengan Iran menyebabkan terhentinya lalu lintas di Selat Hormuz yang merupakan jalur utama distribusi minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia ke pasar global.
Gangguan tersebut turut mempengaruhi produksi dan ekspor energi sehingga memicu kekhawatiran kenaikan harga minyak dunia.
Sebagai langkah menekan harga energi, pemerintah AS telah menyetujui pelepasan 172 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis selama empat bulan.
Selain itu, AS juga mencabut pembatasan terhadap minyak Rusia yang sebelumnya terhambat di laut.
Kekhawatiran Industri dan Opsi Kebijakan
Sejumlah eksekutif perusahaan minyak memperingatkan Gedung Putih bahwa penutupan Selat Hormuz dapat memperburuk lonjakan harga energi global.
CEO ExxonMobil Darren Woods, CEO Chevron Mike Wirth, dan CEO ConocoPhillips Ryan Lance menyatakan gangguan distribusi akan terus menciptakan ketidakstabilan pasar energi.
Gedung Putih kini mempertimbangkan berbagai opsi seperti melonggarkan sanksi minyak Rusia, meningkatkan pengiriman minyak Venezuela, serta menghapus batasan distribusi domestik minyak.
Namun demikian, pelaku industri menilai solusi paling efektif untuk meredakan krisis adalah membuka kembali akses Selat Hormuz.
- Penulis :
- Aditya Yohan







