Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Pemerintah Pastikan Iran Beri Sinyal Positif, Dua Kapal Pertamina Berpeluang Melintas dari Selat Hormuz

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Pemerintah Pastikan Iran Beri Sinyal Positif, Dua Kapal Pertamina Berpeluang Melintas dari Selat Hormuz
Foto: Arsip - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Vahd Nabyl A. Mulachela berbicara dalam media gathering di Jakarta, Selasa 10/2/2026 (sumber: ANTARA/Cindy Frishanti)

Pantau - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri memastikan Iran telah memberikan respons positif terhadap permintaan agar dua kapal tanker milik Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz dapat melintas dengan aman.

Juru Bicara Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela menyampaikan bahwa koordinasi intensif telah dilakukan sejak awal bersama KBRI di Teheran dengan berbagai pihak di Iran untuk menjamin keselamatan kapal.

Ia menyatakan, "Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran," ungkapnya saat menjawab pertanyaan terkait negosiasi tersebut di Jakarta.

Koordinasi Diplomatik dan Langkah Lanjutan

Setelah adanya respons positif dari Teheran, langkah lanjutan mulai dijalankan oleh pihak terkait terutama dalam aspek teknis dan operasional.

Namun demikian, hingga kini belum ada kepastian waktu kapan dua kapal tanker tersebut dapat keluar dari Selat Hormuz.

Sebelumnya pada 4 Maret, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut pemerintah tengah melakukan pendekatan negosiasi untuk membebaskan dua kapal milik PT Pertamina International Shipping yang masih tertahan.

Bahlil juga menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak mengganggu ketahanan energi nasional karena pemerintah segera mencari alternatif sumber energi dari negara lain.

Pada 6 Maret, Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI Santo Darmosumarto menyampaikan pemerintah terus meningkatkan koordinasi dan komunikasi dengan Iran guna menjamin keselamatan kapal.

Kebijakan Iran dan Dampak di Selat Hormuz

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan negaranya mengizinkan kapal dari negara sahabat untuk melintasi Selat Hormuz.

Ia menegaskan kapal dari Amerika Serikat, Israel, dan negara yang dianggap agresor tetap tidak diizinkan melintas.

Negara yang masuk kategori sahabat dan mendapat izin melintas antara lain China, Rusia, India, Pakistan, Irak, dan Malaysia.

Berdasarkan data pelacak kapal MarineTraffic pada periode 20 hingga 22 Maret, sekitar 1.900 kapal dilaporkan tidak dapat bergerak di sekitar Selat Hormuz menurut laporan Anadolu.

Penulis :
Arian Mesa