
Pantau - Seorang personel Indonesia yang tergabung dalam Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (United Nations Interim Force in Lebanon atau UNIFIL) dilaporkan gugur di tengah meningkatnya konflik antara Hizbullah dan Israel.
Kabar tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres melalui platform X pada Senin (30/3).
"Saya mengecam keras insiden pada Minggu di mana seorang penjaga perdamaian asal Indonesia di UNIFIL terbunuh di tengah permusuhan antara Israel dan Hizbullah," kata Guterres.
Ia juga menyebutkan seorang personel UNIFIL asal Indonesia lainnya mengalami luka parah dalam peristiwa tersebut.
PBB Sampaikan Duka dan Seruan Perlindungan Pasukan Perdamaian
Guterres menyampaikan duka cita kepada bangsa Indonesia serta keluarga dan rekan korban yang gugur dalam insiden tersebut.
Ia juga berharap personel yang terluka dapat segera pulih dari kondisinya.
Menurut Guterres, insiden itu merupakan bagian dari rangkaian kejadian yang membahayakan keselamatan pasukan penjaga perdamaian di wilayah konflik.
"Saya menyerukan semua pihak untuk memenuhi kewajiban mereka di bawah hukum internasional serta memastikan keselamatan personel dan properti PBB setiap saat," ujarnya.
Konflik Timur Tengah Meluas hingga Lebanon
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Iran kemudian melakukan serangan balasan ke Israel serta sejumlah wilayah yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Konflik tersebut kemudian meluas ke Lebanon setelah kelompok Hizbullah ikut melancarkan serangan terhadap target militer Israel.
Serangan balasan Israel dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.000 warga Lebanon serta melukai ribuan orang lainnya.
Insiden di perbatasan Israel dan Lebanon juga menimbulkan korban dari kalangan pasukan UNIFIL yang berasal dari berbagai negara.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia sebelumnya menegaskan bahwa keselamatan personel Kontingen Garuda menjadi prioritas utama pemerintah.
"Pemerintah Indonesia terus memantau secara dekat perkembangan situasi serta dampaknya terhadap Kontingen Garuda," kata Kementerian Luar Negeri dalam keterangannya pada 14 Maret.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







