HOME  ⁄  Geopolitik

Paus Leo XIV Serukan Penghentian Perang Iran dan Tolak Penggunaan Agama untuk Konflik

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Paus Leo XIV Serukan Penghentian Perang Iran dan Tolak Penggunaan Agama untuk Konflik
Foto: (Sumber : Paus Leo XIV membacakan pidatonya saat memimpin doa bersama untuk perdamaian di Basilika Santo Petrus di Vatikan pada 11 April 2026. ANTARA/Isabella Bonotto/Anadolu/pri..)

Pantau - Paus Leo XIV menyerukan penghentian Perang Iran serta menolak keras penggunaan agama sebagai pembenaran konflik di tengah eskalasi serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Seruan Moral dan Penolakan Perang

Paus Leo XIV menegaskan bahwa agama tidak dapat dijadikan legitimasi untuk perang, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Ia menyatakan, "Tuhan tak mendengarkan doa orang-orang yang berperang."

Paus juga menolak klaim pejabat Amerika Serikat yang menyebut perang sebagai perang suci, serta menilai tindakan tersebut bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan hukum internasional.

Dalam pandangannya, konflik yang terjadi tidak memiliki dasar legitimasi global karena tidak melalui konsensus Perserikatan Bangsa-Bangsa maupun persetujuan parlemen.

Ia turut menyerukan perhatian dunia terhadap korban sipil, termasuk anak-anak, lansia, dan orang sakit yang terdampak perang.

Ia mengungkapkan, "Mengingat anak-anak yang tidak bersalah, lansia, dan orang sakit."

Kritik terhadap Ancaman dan Dampak Perang

Paus Leo XIV juga menyoroti ancaman penghancuran peradaban Iran yang dinilai melampaui batas kemanusiaan.

Ia menilai bahwa penghancuran peradaban tidak hanya berdampak pada korban jiwa, tetapi juga menghapus identitas, sejarah, dan budaya suatu bangsa.

Di tengah situasi tersebut, Paus mengajak masyarakat dunia untuk mendesak para pemimpin menghentikan konflik dan mengedepankan perdamaian.

Ia menyatakan, "Mendesak pemimpin-pemimpin mereka untuk segera mengupayakan pengakhiran Perang Iran."

Paus Leo XIV, yang merupakan Paus pertama asal Amerika Serikat, menegaskan komitmennya sebagai suara moral global yang melampaui batas agama, bangsa, dan budaya.

Penulis :
Ahmad Yusuf