HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Menguat Tipis, Harapan Negosiasi AS-Iran Tekan Dolar dan Harga Minyak

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rupiah Menguat Tipis, Harapan Negosiasi AS-Iran Tekan Dolar dan Harga Minyak
Foto: (Sumber : Petugas menghitung uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta, Senin (15/9/2025). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sgd/am..)

Pantau - Nilai tukar rupiah menguat tipis pada perdagangan Rabu pagi seiring meningkatnya harapan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang berdampak pada pelemahan dolar AS dan penurunan harga minyak.

Rupiah tercatat menguat 4 poin atau 0,02 persen ke level Rp17.123 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.127 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan penguatan rupiah dipicu sentimen global terkait peluang lanjutan perundingan kedua antara AS dan Iran.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat di kisaran Rp17070 - Rp17.120 dipengaruhi oleh harapan ruang negosiasi kedua antara AS dan Iran yang mendorong harga minyak turun dan indeks dolar melemah,” ujarnya.

Sentimen Global Dorong Rupiah Menguat

Harapan negosiasi muncul setelah adanya rencana lanjutan pembicaraan antara Washington dan Teheran yang sebelumnya berlangsung di Islamabad, Pakistan.

Presiden AS Donald Trump menyebut negosiasi lanjutan berpotensi digelar dalam waktu dekat meski pertemuan sebelumnya belum menghasilkan kesepakatan permanen.

“Negosiasi kedua belum tentu menjamin titik kesepakatan namun harapan harga minyak turun masih akan tetap terjaga,” kata Rully.

Penurunan harga minyak global dinilai memberikan ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Permintaan Obligasi Naik, Yield Turun

Dari dalam negeri, penguatan rupiah juga ditopang meningkatnya permintaan terhadap obligasi pemerintah.

Rully mengungkapkan permintaan dalam lelang obligasi meningkat signifikan hingga 34 persen, terutama pada tenor menengah yang mencapai Rp42 triliun.

“Permintaan obligasi pemerintah pada lelang kemarin naik 34 persen yang disumbang terutama dari tenor menengah yang mencapai Rp42 triliun dan mendorong yield turun 20 hingga 30 bps,” ungkapnya.

Meski demikian, ia mengingatkan beban pembayaran bunga utang pemerintah masih tinggi terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, rupiah diperkirakan bergerak stabil dengan kecenderungan menguat terbatas dalam waktu dekat.

Penulis :
Ahmad Yusuf