HOME  ⁄  Geopolitik

Singapura Tegas Menolak Pembatasan Lalu Lintas Kapal di Selat Malaka yang Strategis bagi Perdagangan Global

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Singapura Tegas Menolak Pembatasan Lalu Lintas Kapal di Selat Malaka yang Strategis bagi Perdagangan Global
Foto: (Sumber : Personel Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Alamang-644 melaksanakan latihan kesiapsiagaan peran tempur bahaya udara di perairan Selat Malaka, Selasa (21/4/2026). /ANTARA/HO-Dispen Koarmada I/aa.)

Pantau - Singapura menolak rencana pembatasan lalu lintas kapal di Selat Malaka dan menegaskan komitmennya menjaga jalur pelayaran internasional tersebut tetap terbuka bagi semua negara, sebagaimana disampaikan Menteri Luar Negeri Vivian Balakrishnan pada Rabu (22/4).

Sikap Tegas Singapura soal Kebebasan Navigasi

Balakrishnan menyatakan bahwa hak melintas di Selat Malaka merupakan prinsip yang harus dijaga oleh negara-negara di kawasan tersebut.

Ia mengungkapkan, "Hak untuk melintas dijamin untuk semua negara. Kami tidak akan ikut serta dalam upaya apa pun untuk menutup, mencegat, atau mengenakan bea masuk di wilayah sekitar kami."

Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap usulan pengenaan tarif bagi kapal yang melintas di selat tersebut.

Selat Malaka Jadi Jalur Vital Perdagangan Dunia

Selat Malaka yang berbatasan dengan Singapura, Malaysia, dan Indonesia merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia.

Dengan lebar tersempit sekitar dua mil laut, selat ini menjadi titik krusial distribusi energi dan perdagangan global, terutama untuk pengiriman menuju Asia Timur seperti China.

Selain itu, Selat Malaka menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta memiliki peran strategis yang kerap disandingkan dengan Terusan Suez dan Selat Hormuz.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa mengusulkan kemungkinan penerapan tarif bagi kapal yang melintas di jalur tersebut sebagai bagian dari wacana kebijakan ekonomi.

Penulis :
Aditya Yohan
Editor :
Aditya Yohan