
Pantau - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa blokade di Selat Hormuz, pelanggaran komitmen, serta ancaman dari Amerika Serikat menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi antara kedua pihak.
Ketegangan Hambat Dialog
“Iran selalu menyambut dan terus membuka diri terhadap dialog dan kesepakatan. Namun, itikad buruk, pengepungan, dan ancaman merupakan penghalang utama bagi negosiasi yang tulus. Dunia menyaksikan retorika kosong yang penuh kemunafikan serta kontradiksi antara klaim dan tindakan,” tulis Pezeshkian di media sosial X, Rabu (22/4).
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat setelah serangkaian konflik militer.
Sebelumnya, pada 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Iran kemudian merespons dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Dampak pada Jalur Energi Global
Eskalasi konflik tersebut sempat mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis pengiriman minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia ke pasar global.
Gangguan tersebut turut memicu kenaikan harga bahan bakar di pasar internasional.
Pada 7 April, Washington dan Teheran sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan, namun perundingan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.
Meski belum ada pengumuman resmi terkait dimulainya kembali konflik terbuka, Amerika Serikat dilaporkan mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








