
Pantau - Film Pangku menampilkan tiga ekor ikan yang tak segar, surat nikah untuk syarat akta kelahiran, dan gerobak mi ayam tanpa atap sebagai simbol awal cerita yang menggambarkan keping-keping kebahagiaan kecil yang sederhana namun rapuh.
Perjalanan Sartika dan Simbol-Simbol Kehidupan yang Berserakan
Artikel menegaskan bahwa kebahagiaan itu sederhana, singkat, dan tidak perlu mengikuti ukuran orang kebanyakan, tetapi tetap perlu diperjuangkan.
Tokoh utama, Sartika yang diperankan Claresta Taufan Kusumarina, adalah perempuan muda hamil tua yang meninggalkan kampung demi harapan hidup lebih baik, tetapi justru terdampar di gang remang-remang setelah perjalanan yang bahkan belum mencapai 40 kilometer.
Sartika menyusuri gang remang di tepi jalur Pantura, Indramayu, untuk bertemu Maya yang dimainkan Christine Hakim.
Maya bersama Jaya yang diperankan Jose Rizal Manua digambarkan sebagai dua sosok yang membantu menjaga “api kecil” harapan Sartika.
Nyala harapan itu mengantar Sartika pada kelahiran putranya, Bayu yang diperankan Shakeel Fauzi, serta pertemuan dengan Hadi yang dimainkan Fedi Nuril yang datang membawa setumpuk kayu bakar sebagai simbol pengobaran harapan baru.
Metafora Kebahagiaan Singkat dalam Film Pangku
Kebahagiaan yang dialami Sartika tetap singkat dengan hadirnya tiga ekor ikan yang tak segar, surat nikah untuk syarat akta kelahiran, dan gerobak mi ayam yang belum selesai sebagai wujud kebahagiaan sederhana yang cepat berserakan.
Film ini mengibaratkan kehidupan Sartika seperti aktivitas "kopi pangku", sebuah transaksi singkat di warung remang yang menjadi metafora untuk kepingan kebahagiaan yang datang dan pergi dalam waktu singkat.
Meski berserakan, kebahagiaan itu tetap nyata dan membawa Sartika pada kebahagiaan-kebahagiaan lain sebagai hasil dari keberaniannya bertaruh demi masa depan.
"Hidup yang tidak dipertaruhkan tak akan pernah dimenangkan", ungkapnya.
Sartika telah mempertaruhkan hidupnya, dibantu Maya, Jaya, dan Bayu untuk menjaga api kecil harapan tetap menyala, menjadi inti refleksi film Pangku tentang perjuangan, kegetiran, dan kebahagiaan sederhana yang layak diperjuangkan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








