
Pantau - Dua kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP) asal Indonesia, Tikam Samurai dan Locust, resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) pengembangan dalam ajang JAFF Market 2025 yang berlangsung di Jogja Expo Center pada Sabtu, 29 November 2025.
Tikam Samurai, Dari Novel Epik ke Layar Global
Penandatanganan MoU menjadi langkah penting dalam pengembangan IP Tikam Samurai, karya yang berbasis dari novel epik 10 jilid karya Makmur Hendrik, jurnalis asal Minangkabau.
"Penandatanganan nota kesepahaman ini menjadi langkah penting. Ini adalah ikhtiar budaya, From Minang to the World," ungkap Erik Hidayat, Co-Founder pengembang IP Tikam Samurai, dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
Cerita Tikam Samurai mengisahkan Si Bungsu, seorang pemuda Minang yang menuntut keadilan atas kematian ayahnya, dengan latar masa pendudukan Jepang di Sumatera Barat antara tahun 1942 hingga 1945.
Proyek ini telah dikembangkan sejak tahun 2022 dalam berbagai medium seperti film, animasi, gim, dan komik.
Melalui kerja sama ini, Tikam Samurai akan dikembangkan bersama Bushi Bros Films.
Cornelio Sunny dari Bushi Bros Films menyampaikan bahwa cerita ini sarat nilai budaya dan memiliki potensi untuk menembus pasar internasional.
"Cerita ini punya potensi visual. Kami merasa terhormat mengembangkannya sebagai film global," ujarnya.
Locust Angkat Horor Sejarah Tionghoa di Sumatera
Sementara itu, IP Locust merupakan karya berbasis komik horor sejarah yang diterbitkan oleh penerbit komik Kosmik.
Cerita Locust berlatar tentang pengungsi Tionghoa di Sumatera pada tahun 1966 dan telah mendapat perhatian internasional dengan pernah ditampilkan di Festival Film Cannes.
Dalam MoU di JAFF Market 2025, Locust menggandeng Lumine Studio, perusahaan visual effects (VFX), untuk pengembangan lebih lanjut.
IP ini kini sedang dalam tahap pengembangan bersama dengan Lumine Studio.
Pemerintah Dukung 10 IP Lokal di JAFF Market
Kehadiran Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, dalam acara ini menjadi bentuk dukungan langsung pemerintah terhadap karya kreatif lokal.
Ia menyampaikan bahwa kerja sama IP ini merupakan jembatan penting dalam membawa karya anak bangsa ke tingkat global.
JAFF Market sendiri berfungsi sebagai pasar film yang mempertemukan kreator lokal dengan mitra internasional, mirip dengan Marché du Film di Festival Film Cannes.
Pasar film ini rutin digelar sejak 2024 dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF).
Tahun ini, pemerintah mendukung partisipasi 10 IP lokal lainnya di JAFF Market, yaitu Amurva, Elang Hitam, Glommy Sunday, Jemawa Yangti, Journal Of Terror, Meng, Sangkakala Di Langit Andalusia, Tabi, The Summoning, dan World Without Sleep.
- Penulis :
- Gerry Eka







