Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Lifestyle

Ketika Bantuan Sosial Menjadi Gaya Hidup: Antara Ikhtiar Negara dan Risiko Ketergantungan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Ketika Bantuan Sosial Menjadi Gaya Hidup: Antara Ikhtiar Negara dan Risiko Ketergantungan
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Penerima Bantuan Pangan (PBP) membawa beras yang didistribusikan di Kelurahan Harapan Jaya, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (17/12/2025). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

Pantau - Bantuan sosial (bansos) yang diberikan pemerintah secara rutin telah menjadi bagian dari ritme hidup sebagian warga, layaknya musim panen kecil yang selalu ditunggu dan dibicarakan.

Bansos kini tak hanya menjadi penopang ekonomi sementara, tetapi telah memengaruhi pola pikir, percakapan, hingga perencanaan rumah tangga sehari-hari.

Bentuk kepedulian negara ini sangat penting, terutama bagi masyarakat paling rentan, namun berisiko menimbulkan ketergantungan jika tidak disertai dengan upaya pemberdayaan yang terarah.

Bansos: Antara Penopang Ekonomi dan Ketergantungan Sosial

Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu, dengan harga kebutuhan pokok yang meningkat dan pekerjaan yang tidak selalu pasti, bansos hadir sebagai penyelamat.

Bagi sebagian keluarga, bansos menjadi penenang yang membantu kelangsungan hidup dan pendidikan anak-anak.

Negara menjalankan peran pelindung sosialnya agar tak ada warga yang jatuh tanpa pegangan, sebuah ikhtiar kemanusiaan yang patut diapresiasi.

Namun, niat baik ini dapat membawa risiko sosial jika bantuan berubah fungsi menjadi tujuan akhir, bukan jaring pengaman sementara.

Ketergantungan yang tidak disadari dapat menyuburkan mental menengadah dan perlahan mengikis martabat masyarakat.

Obrolan tentang kapan bansos cair, siapa penerima, dan bentuk bantuannya telah menjadi bagian dari percakapan umum sehari-hari, menunjukkan bahwa bantuan ini sudah melekat dalam keseharian.

Tantangan utamanya adalah memastikan bahwa bansos benar-benar menguatkan, bukan sekadar menenangkan.

Bantuan seharusnya menopang daya juang masyarakat, bukan menggantikannya.

Membentuk Habitus Ketergantungan: Sebuah Risiko Jangka Panjang

Bansos yang diberikan secara rutin membawa konsekuensi sosial berupa terbentuknya kebiasaan yang disebut habitus, menurut teori sosiologi Pierre Bourdieu.

Habitus terbentuk lewat pengulangan yang konsisten dan bekerja dalam diam, memengaruhi cara berpikir, merespons, dan membuat pilihan tanpa disadari.

Dalam konteks bansos, habitus itu tampak dalam bentuk gaya hidup menunggu bantuan, menyesuaikan ritme hidup dengan jadwal pencairan.

Antrean pencairan, obrolan tentang daftar penerima, dan ekspektasi akan bantuan menjadi fenomena sosial yang berulang.

Dalam psikologi sosial, kondisi ini dikenal sebagai learned dependency—sebuah keadaan ketika individu atau kelompok terbiasa mengandalkan pihak luar untuk menyelesaikan kesulitan.

Bukan karena tidak mampu, tapi karena pengalaman menunjukkan bahwa menunggu bantuan terasa lebih aman daripada mengambil risiko mandiri.

Jika tidak dikawal dengan pendekatan pemberdayaan, pola ini dapat memupuk kemalasan kolektif dan melemahkan daya saing masyarakat dalam jangka panjang.

Penulis :
Ahmad Yusuf