
Pantau - Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia menilai harga Aviation Turbine Fuel perlu segera diturunkan agar konektivitas dan daya saing sektor pariwisata nasional dapat lebih ditingkatkan.
Ketua Umum ICPI Azril Azhari menyampaikan bahwa selain persoalan infrastruktur dan konektivitas, sektor pariwisata masih dibebani mahalnya biaya tiket pesawat.
Ia menilai mahalnya harga tiket penerbangan semakin memperberat masyarakat di tengah daya beli yang terus menurun.
"Selain masalah infrastruktur dan konektivitas ada masalah pokok yaitu biaya tiket pesawat yang masih sangat mahal dan daya beli masyarakat yang semakin turun, mahalnya harga tiket pesawat karena harga avtur yang tertinggi di ASEAN," ungkapnya.
Avtur Mahal Hambat Maskapai dan Liburan
Azril menegaskan pemerintah perlu segera membahas persoalan harga avtur sebagai persiapan menghadapi liburan perayaan Imlek yang berdekatan dengan bulan Ramadhan.
Ia menyebut pihak-pihak yang perlu terlibat dalam pembahasan tersebut antara lain Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Pariwisata, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Menurut Azril, harga avtur yang tinggi menjadi penyebab utama mahalnya harga tiket penerbangan antar destinasi di Indonesia.
Berdasarkan penelitian ICPI di Singapura, kondisi tersebut berdampak pada enggannya sejumlah maskapai besar untuk masuk ke pasar Indonesia.
Ia juga menyinggung kebijakan pemerintah sebelumnya yang dinilai belum menyentuh akar persoalan.
"Pemerintah tahu waktu liburan sebelum Natal itu disebutkan bahwa sudah diturunkan katanya tapi itu potongan bukan diturunkan, potongan harga itu dari ground handling bukan dari avtur tetap," katanya.
SAF dan Aturan Internasional Jadi Tekanan Tambahan
Azril mengingatkan bahwa mulai 1 Januari 2026 beberapa negara seperti Singapura telah menerapkan penggunaan Sustainable Aviation Fuel sebesar 1 persen.
Penggunaan Sustainable Aviation Fuel tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 3 hingga 5 persen pada tahun 2030.
Ia menjelaskan harga Sustainable Aviation Fuel dapat mencapai 6 hingga 10 kali lipat dari harga avtur biasa.
Penggunaan bahan bakar tersebut bertujuan menjaga udara bersih dan mengurangi emisi gas CO2.
Azril juga mengungkapkan bahwa International Civil Aviation Organization menyatakan liability is adjusted sebesar 17,9 persen sejak 28 Desember yang berdampak pada kenaikan biaya asuransi penerbangan.
Menurutnya, kondisi tersebut semakin memperkuat alasan harga avtur harus segera diturunkan.
Penurunan harga avtur dinilai penting untuk mengantisipasi potensi pelarangan maskapai Indonesia masuk ke negara-negara yang menerapkan Sustainable Aviation Fuel.
Kebijakan tersebut juga dinilai dapat mencegah Indonesia membayar denda yang lebih mahal akibat tidak mengikuti aturan internasional.
Azril menilai pembahasan awal persoalan ini dapat dimulai oleh Kementerian Pariwisata yang tengah berbenah dari sisi infrastruktur dan konektivitas.
Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan keamanan dan kenyamanan wisatawan dalam melakukan mobilisasi di Indonesia.
Ia juga menyoroti menurunnya daya beli masyarakat yang ditandai dengan maraknya pemutusan hubungan kerja di berbagai wilayah.
Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat semakin kesulitan membeli tiket pesawat.
Azril berharap pemerintah ke depan lebih mengandalkan kajian ilmiah dalam mengembangkan sektor pariwisata nasional.
Ia menegaskan pengembangan pariwisata tidak hanya berfokus pada infrastruktur dan konektivitas.
Ia mendorong eksplorasi wisata minat khusus dan wisata gastronomi yang kaya serta membumi.
Pengembangan tersebut diharapkan tetap menjaga kearifan lokal dan keautentikan.
"Perlu diingat bahwa sektor pariwisata kita itu bisa menjadi nomor satu penyumbang pemasukan devisa negara di Indonesia," ungkapnya.
- Penulis :
- Aditya Yohan
- Editor :
- Aditya Yohan







