Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Lifestyle

Mitigasi Krisis Jadi Kunci Jaga Kepuasan Wisatawan di Tengah Gangguan Transportasi

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Mitigasi Krisis Jadi Kunci Jaga Kepuasan Wisatawan di Tengah Gangguan Transportasi
Foto: (Sumber: Ilustrasi orang-orang yang hendak melakukan perjalanan. (ANTARA/Pexels).)

Pantau - Pelaku industri pariwisata diimbau menyiapkan strategi mitigasi krisis untuk menjaga kepercayaan dan kepuasan wisatawan, terutama saat terjadi gangguan transportasi massal seperti keterlambatan atau pembatalan penerbangan.

Pengamat pariwisata Sari Lenggogeni menyebut gangguan ini termasuk dalam kategori krisis buatan manusia yang dapat berdampak negatif terhadap pengalaman wisata.

"Ini termasuk krisis buatan manusia. Dampak negatif harus segera diperbaiki melalui pemulihan krisis, meningkatkan kepercayaan, kebahagiaan, dan pengalaman mereka agar perjalanan tetap menyenangkan," ungkapnya.

Gangguan transportasi dapat menyebabkan wisatawan kehilangan waktu menginap, jadwal tur, dan pengalaman wisata yang telah direncanakan.

Dampak Serius hingga Penundaan Perjalanan

Secara psikologis, gangguan tersebut bisa memengaruhi keputusan perjalanan wisatawan di masa mendatang, bahkan hingga ke tingkat pembatalan.

Laporan dari Travel and Tour World mencatat adanya sejumlah kasus keterlambatan dan pembatalan penerbangan di berbagai wilayah Asia, termasuk Bandara Soekarno-Hatta.

Meski demikian, pihak Bandara Soetta menegaskan bahwa operasional penerbangan tetap berjalan normal.

Sari menyarankan pelaku industri pariwisata segera mengambil langkah mitigasi untuk mengantisipasi dampak gangguan tersebut.

Langkah-langkah yang disarankan antara lain:

  • Komunikasi langsung dan respons cepat terhadap gangguan.
  • Penyediaan fasilitas tambahan seperti hotel, makanan, dan pengembalian dana bagi wisatawan terdampak.
  • Strategi destinasi berbasis sistem cadangan wisata pintar.

Strategi Pra-Krisis dan Pemulihan Pengalaman Wisatawan

Menurut Sari, penting juga menyiapkan langkah mitigasi sebelum krisis terjadi.

Contoh strategi pra-krisis meliputi:

  • Kebijakan fleksibel untuk check-in hotel.
  • Paket khusus bagi wisatawan yang datang terlambat.
  • Penyediaan asuransi perjalanan yang memadai.

Untuk menjaga kepuasan wisatawan pasca gangguan, pelaku pariwisata disarankan mengoptimalkan:

  • Wisata malam sebagai pengganti waktu yang hilang.
  • Panduan wisata digital untuk mempermudah mobilitas.
  • Aktivitas tambahan yang memberi nilai lebih bagi pengunjung.

Komunikasi risiko juga harus diperkuat, baik melalui saluran informasi resmi maupun papan petunjuk langsung di lokasi wisata.

Tujuannya adalah agar wisatawan merasa mendapat informasi yang jujur dan akurat, bukan merasa ditinggalkan dalam situasi yang tidak menentu.

"Industri pariwisata tidak hanya menjaga ekonomi, tetapi juga membangun kepercayaan dari luar terhadap Indonesia. Peran ini penting untuk reputasi negara, baik antarwarga maupun antara pemerintah dan masyarakat," ujar Sari.

Langkah mitigasi yang komprehensif dinilai penting untuk menjaga pengalaman wisatawan tetap positif, memperkuat ketahanan sektor pariwisata, serta menjaga citra Indonesia sebagai destinasi unggulan di mata dunia.

Penulis :
Ahmad Yusuf