
Pantau - Tradisi pembagian bubur harisah berlangsung di sebuah rumah tua di Jalan Pekarungan, Kelurahan Panjunan, Kota Cirebon, dengan sekitar 100 porsi bubur khas Timur Tengah dibagikan gratis kepada warga setiap bulan Ramadhan menjelang azan magrib.
Tradisi ini dijaga keluarga Bayasut dan telah berlangsung lintas generasi sejak dirintis pada 1924 oleh Syekh Mohammad Islam Bayasut, saudagar keturunan Yaman yang menetap di Panjunan.
Fatimah Bayasut (67) bersama kakaknya Abdullah bin Muhammad bin Sahil menjadi generasi ketiga yang mempertahankan warisan kuliner tersebut.
“Bubur harisah ini sudah ada sejak nenek moyang saya, yang diadakan setiap bulan Ramadhan,” katanya kepada ANTARA.
Proses memasak dimulai sekitar pukul 10.00 WIB selama kurang lebih tiga jam dengan bahan utama beras dan santan yang direbus hingga menyatu kemudian ditambahkan daging kambing.
Rempah-rempah khas Timur Tengah seperti kayu manis, cengkeh, kapulaga, jintan putih, lada, jahe, dan ketumbar menjadi kunci cita rasa bubur yang bertekstur kental dan lumer di lidah.
Tidak ada takaran tertulis dalam peracikan karena seluruh proses dilakukan berdasarkan pengalaman turun-temurun keluarga.
Setelah matang sekitar pukul 13.00 WIB, bubur didiamkan selama 30 menit sebelum dikemas dan didistribusikan ke Masjid Asy-Syafi’i Bayasut serta warga sekitar Kampung Arab Panjunan.
Seluruh biaya produksi bubur harisah berasal dari dana yayasan keluarga tanpa sumbangan eksternal sebagai bentuk komitmen menjaga tradisi.
Kampung Arab Panjunan dikenal sebagai kawasan akulturasi budaya Arab, Jawa, dan Tionghoa sejak abad ke-15 dengan salah satu penanda sejarah penting yakni Masjid Merah Panjunan yang berciri bata merah dan ornamen keramik Tiongkok.
Pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menjadikan Kampung Arab Panjunan sebagai kampung wisata berbasis sejarah dan budaya.
“Sudah bisa dikunjungi, tetapi tetap ada pembenahan supaya pengalaman wisatawan semakin maksimal,” katanya.
Tradisi bubur harisah kini menjadi identitas budaya Kota Cirebon sekaligus simbol solidaritas sosial warga selama Ramadhan.
- Penulis :
- Gerry Eka







