
Pantau - Kota Singkawang di Kalimantan Barat dikenal sebagai simbol praktik toleransi di Indonesia karena keberagaman etnis, agama, dan budaya yang hidup harmonis dalam masyarakatnya.
Kota ini sering dijuluki kota seribu kelenteng atau Kota Amoy karena kuatnya budaya Tionghoa yang berkembang di wilayah tersebut.
Keberagaman masyarakat Singkawang terdiri dari berbagai etnis seperti Tionghoa, Dayak, dan Melayu yang telah hidup berdampingan selama ratusan tahun.
Interaksi panjang antar-etnis tersebut membentuk struktur sosial yang relatif stabil dan harmonis hingga saat ini.
Perayaan Imlek dan Festival Cap Go Meh setiap tahun menjadi panggung besar yang memperlihatkan praktik toleransi masyarakat Singkawang kepada publik.
Pada tahun 2026 perayaan Cap Go Meh berlangsung berdekatan dengan bulan suci Ramadhan sehingga semakin memperlihatkan sikap saling menghormati antarwarga yang berbeda latar belakang.
Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie mengatakan perayaan Imlek dan Cap Go Meh merupakan bagian dari identitas kota yang lahir dari keberagaman masyarakatnya.
Ia mengatakan, “Di sini kami bisa menghias kota dan merayakan kegiatan masing-masing secara berdampingan, damai, dan saling menghormati. Ini yang menjadikan kita dinobatkan sebagai Kota Paling Toleran di Indonesia.”
Konsisten Jadi Kota Paling Toleran
Singkawang secara konsisten dinobatkan sebagai kota paling toleran di Indonesia berdasarkan Indeks Kota Toleran yang dirilis oleh SETARA Institute.
Dalam laporan terbaru Singkawang memperoleh skor tertinggi yaitu 6,500.
Penilaian tersebut didasarkan pada indikator seperti kebijakan pemerintah yang inklusif, minimnya peristiwa intoleransi, serta kepemimpinan yang mendukung keberagaman.
Kota Singkawang juga tercatat menempati peringkat pertama kota paling toleran di Indonesia sejak 2021 hingga 2023.
Penilaian Indeks Kota Toleran juga mempertimbangkan komitmen pemerintah daerah dalam rencana pembangunan yang inklusif.
Selain itu penilaian juga melihat keberadaan regulasi yang tidak diskriminatif serta kepemimpinan yang mendorong kehidupan masyarakat yang terbuka terhadap perbedaan.
Festival Cap Go Meh Jadi Simbol Kerukunan
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Singkawang sering merayakan hari besar keagamaan secara bersama-sama.
Perayaan Imlek dan Cap Go Meh tidak hanya diikuti oleh masyarakat Tionghoa tetapi juga melibatkan berbagai komunitas lintas agama dan etnis.
Fenomena serupa juga terlihat pada perayaan keagamaan lain seperti Idul Fitri dan Natal yang sering diwarnai tradisi saling mengunjungi antarwarga.
Puncak perayaan Cap Go Meh 2026 di Singkawang menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah penyelenggaraannya.
Parade tatung pada perayaan tersebut menampilkan 734 peserta dari berbagai kelompok atraksi budaya.
Peserta tersebut terdiri dari 258 tatung menggunakan tandu, 109 tatung tanpa tandu, 76 miniatur, 15 jelangkung, tiga naga, dua barongsai, serta satu rombongan pejalan kaki.
Atraksi budaya tersebut menarik ribuan warga dan wisatawan yang memadati jalan utama kota.
Dukungan Tokoh Nasional
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menilai Cap Go Meh Singkawang merupakan pesan kuat tentang arti keberagaman Indonesia.
Ia mengatakan, “Perayaan ini bukan hanya menampilkan budaya dan tradisi yang khas dan unik, tetapi juga mengirim pesan kepada siapa pun bahwa keberagaman di Indonesia adalah sebuah kekuatan yang harus dirawat dan dijaga.”
Ia berharap semangat toleransi dari Singkawang dapat menyebar ke seluruh wilayah Indonesia.
Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan, “Mudah-mudahan dari Singkawang energi positif ini bisa menyebar ke berbagai penjuru tanah air, bahkan mengirim pesan kepada dunia bahwa kita harus hidup toleran, harmonis, dan menjaga perdamaian.”
Tokoh nasional Oesman Sapta Odang menilai keharmonisan masyarakat Singkawang sebagai bukti bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan jika dikelola dengan baik.
Ia mengatakan, “Sebagai rakyat Indonesia, kita wajib menjaga toleransi sesuai amanat UUD 1945. Kita harus saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada di masyarakat.”
Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto juga menilai Cap Go Meh di Singkawang sebagai ekspresi budaya yang memperkuat identitas nasional dan narasi toleransi.
Ia mengatakan, “Narasi kebangsaan bukanlah keseragaman, tetapi keberagaman. Dari Singkawang kita belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan energi untuk bersatu.”
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian juga mengapresiasi tingkat toleransi masyarakat Singkawang.
Ia mengatakan, “Saya merasa senang dan bangga karena di Indonesia ada kota yang sangat toleran, nomor satu.”
Ia menilai keterlibatan lintas agama dan etnis dalam penyelenggaraan Cap Go Meh menjadi bukti bahwa toleransi di Singkawang hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Tito mengatakan, “Acara ini bukan hanya dihadiri, tetapi juga dipanitiai oleh pemeluk agama lain. Ini menunjukkan rasa saling menghargai yang luar biasa.”
Pengalaman Singkawang menunjukkan bahwa keberagaman tidak selalu menjadi sumber perpecahan tetapi dapat menjadi fondasi kuat bagi persatuan.
Banyak pengamat sosial menyebut Singkawang sebagai laboratorium toleransi Indonesia karena keberagaman masyarakatnya mampu dikelola menjadi kekuatan sosial.
Wisatawan asal Jakarta bernama Renase mengaku terkesan setelah menyaksikan perayaan Cap Go Meh di Singkawang.
Ia mengatakan, “Tahun depan saya datang lagi.”
Wisatawan lain bernama Elizabeth yang baru pertama kali datang juga mengaku kagum dengan atraksi tatung dalam festival tersebut.
Ia mengatakan, “Sangat seru. Saya kagum dengan atraksi tatungnya.”
Singkawang menjadi contoh bagaimana nilai Bhinneka Tunggal Ika dapat diwujudkan melalui kebijakan yang inklusif serta budaya masyarakat yang menghargai perbedaan.
- Penulis :
- Gerry Eka







