
Pantau - Tradisi tahunan Festival Lopis Raksasa kembali digelar di Kelurahan Krapyak, Kota Pekalongan, sebagai bagian dari perayaan Syawalan 2026 yang sarat makna kebersamaan dan silaturahmi.
Tradisi yang Dinanti Usai Lebaran
Perayaan ini menjadi momen yang paling ditunggu warga setelah Idulfitri. Sejak H+2 Lebaran, masyarakat mulai menyiapkan lopis raksasa yang terbuat dari lebih dari lima kuintal beras ketan.
Kehadiran lopis juga menjadi penanda berakhirnya masa libur Lebaran dan kembalinya masyarakat ke aktivitas sehari-hari.
Makna Filosofis Lopis
Lopis bukan sekadar makanan tradisional, tetapi mengandung nilai simbolik yang dalam. Dalam tradisi Jawa pesisir, lopis dimaknai sebagai “lepat” atau pengakuan kesalahan.
Teksturnya yang lengket melambangkan eratnya persaudaraan setelah saling memaafkan, sementara warna putih mencerminkan kesucian pasca-Idulfitri.
Balutan daun pisang menggambarkan harapan agar kehidupan tetap tertata dan penuh kebaikan, sedangkan ikatan dari serat pelepah pisang melambangkan kekuatan dalam menjaga hubungan silaturahmi.
Perekat Sosial dan Budaya
Pada puncak perayaan Syawalan, lopis raksasa akan dipotong dan dibagikan kepada warga serta pengunjung sebagai simbol kebersamaan.
Tradisi ini tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga memperkuat hubungan sosial antarwarga, menjadikan lopis sebagai medium yang menghubungkan nilai religius, sosial, dan budaya dalam kehidupan masyarakat.
- Penulis :
- Aditya Yohan







