
Pantau - Infertilitas atau gangguan kesuburan dinilai menjadi beban emosional berat bagi pasangan suami istri karena memicu tekanan psikologis dan perubahan dinamika hubungan.
Tekanan Emosional dan Perubahan Hubungan
Psikoterapis trauma reproduksi Fenella Das Gupta mengungkapkan infertilitas kerap menimbulkan perasaan tidak sejalan dalam hubungan meski cinta tetap ada.
Ia menjelaskan kondisi tersebut dapat memicu stres, kebingungan, hingga konflik dalam hubungan pasangan.
Menurutnya, tekanan semakin terasa ketika masalah infertilitas dipandang sebagai beban salah satu pihak, bukan sebagai persoalan bersama.
Gupta menyebut pasangan juga bisa mengalami rasa tidak aman, kebutuhan akan kepastian, hingga kecenderungan saling menyalahkan atau merasa bersalah.
Dampak Sosial dan Harapan yang Terganggu
Ia menambahkan tekanan juga muncul dari lingkungan sosial yang tetap berjalan normal dengan percakapan atau perayaan terkait anak.
Situasi ini kerap memicu reaksi emosional berbeda, di mana satu pihak ingin menghindar sementara yang lain tetap berusaha menjalani aktivitas seperti biasa.
"Infertilitas menjadi sangat berat dalam hubungan karena munculnya perasaan yang terasa berubah dan tidak sejalan," ungkap Gupta.
Selain itu, infertilitas juga berkaitan dengan hilangnya harapan masa depan yang telah dibayangkan oleh pasangan.
Gupta menegaskan bahwa kondisi ini bukan kegagalan hubungan, melainkan pengalaman bersama yang dijalani dengan cara berbeda oleh masing-masing individu.
- Penulis :
- Aditya Yohan








