HOME  ⁄  Lifestyle

Studi Universitas Birmingham Ungkap Kurang Tidur pada Anak Tingkatkan Risiko Depresi Saat Remaja

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Studi Universitas Birmingham Ungkap Kurang Tidur pada Anak Tingkatkan Risiko Depresi Saat Remaja
Foto: (Sumber :Ilustrasi anak tidur. ANTARA/Pixabay.)

Pantau - Sebuah studi dari Universitas Birmingham menemukan bahwa anak-anak yang mengalami durasi tidur pendek secara konsisten sejak masa bayi hingga usia sekolah memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi ketika memasuki masa remaja dan awal dewasa.

Penelitian Temukan Hubungan Tidur dan Depresi

Penelitian yang melibatkan lebih dari 15.000 anak melalui Children of the 90s atau Avon Longitudinal Study of Parents and Children menganalisis pola tidur sejak usia enam bulan hingga tujuh tahun, kemudian membandingkannya dengan gejala depresi yang muncul pada usia 12,5 hingga 22 tahun.

Penulis utama studi, Dr. Isabel Morales-Muñoz, mengungkapkan, “Risiko yang meningkat dua kali lipat mungkin terdengar besar, tetapi masalah tidur yang menetap hanya dialami oleh sebagian kecil peserta studi, dan hanya sebagian kecil pula yang kemudian mengalami gejala depresi yang berkelanjutan,” tuturnya.

Hasil penelitian menunjukkan anak-anak dengan durasi tidur yang secara konsisten lebih pendek memiliki kemungkinan dua kali lebih besar melaporkan tingkat depresi yang tinggi pada masa remaja hingga awal kedewasaan.

Perbaikan Pola Tidur Dinilai Penting

Dr. Isabel menilai kebiasaan tidur merupakan faktor yang masih dapat diperbaiki tanpa intervensi medis.

Ia mengatakan, “Upaya mengatasi masalah tidur yang berlangsung lama selama masa kanak-kanak akan memberikan banyak manfaat, termasuk mengurangi potensi risiko kesehatan mental,” ujarnya.

Peneliti menyarankan orang tua membangun rutinitas tidur yang konsisten, mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur, meningkatkan aktivitas fisik anak pada siang hari, serta menciptakan lingkungan tidur yang tenang dan nyaman.

Salah satu penulis studi lainnya, Dr. Rebekah Amos, menyatakan, “Temuan ini menunjukkan bahwa gangguan tidur kronis dapat berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental jangka panjang melalui jalur biologis, termasuk peradangan,” katanya.

Penulis :
Aditya Yohan