HOME  ⁄  Nasional

Cendekiawan Lintas Iman Serukan Persatuan dan Dialog Damai di Tengah Dinamika Kebangsaan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Cendekiawan Lintas Iman Serukan Persatuan dan Dialog Damai di Tengah Dinamika Kebangsaan
Foto: (Sumber: Ketua Umum DPP Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Badikenita Putri Sitepu. ANTARA/HO-PIKI.)

Pantau - Sejumlah cendekiawan lintas iman dari berbagai organisasi keagamaan menyerukan pentingnya menjaga persatuan dan mendorong dialog damai, menyikapi dinamika kebangsaan yang tengah terjadi di Indonesia, termasuk kerusuhan akibat aksi penyampaian aspirasi di berbagai wilayah.

Duka untuk Korban dan Ajakan Jaga Keutuhan NKRI

Pernyataan bersama ini disampaikan oleh lima tokoh dari organisasi cendekiawan lintas iman, yaitu:

Ketua Umum Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), Luky A Yusgiantoro

Ketua Umum Keluarga Cendekiawan Buddhis Indonesia (KCBI), YM Bhikkhu Dhammavuddho Thera

Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Prof Kamaruddin Amin

Ketua Umum Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI), Dr Badikenita Putri Br Sitepu

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Hindu Indonesia (ICHI), I Nyoman Widia

Para tokoh ini menyayangkan terjadinya kerusuhan dalam aksi demonstrasi dan menyampaikan duka mendalam atas jatuhnya korban jiwa, baik dari pihak demonstran maupun aparat keamanan.

“Peristiwa ini hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki segala sesuatu demi kebaikan bersama,” ujar mereka dalam pernyataan tertulis.

Kelima tokoh ini menegaskan komitmen bersama untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang mereka sebut sebagai warisan luhur para pendiri bangsa.

“Kami menegaskan komitmen untuk senantiasa menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Persatuan bangsa adalah warisan luhur para pendiri negara yang harus kita pelihara dengan kesadaran, cinta tanah air, dan semangat gotong royong,” tegas mereka.

Seruan kepada Pemerintah, Parlemen, dan Masyarakat

Para cendekiawan lintas iman mengimbau agar pemerintah dan parlemen mendengar serta menindaklanjuti aspirasi rakyat secara bijaksana, tanpa menutup ruang partisipasi publik.

Di sisi lain, masyarakat juga diingatkan untuk tidak melakukan tindakan anarkis maupun menyebarkan narasi provokatif yang dapat memperkeruh suasana.

“Kekerasan hanya akan melahirkan luka baru, sedangkan kata-kata yang menyesatkan akan memperlebar jarak di antara sesama anak bangsa,” tulis mereka.

Mereka juga mengajak masyarakat untuk menghentikan aksi penyampaian aspirasi yang berujung pada kerusuhan, dan menekankan pentingnya pendekatan dialog, saling memaafkan, dan mencari jalan tengah demi tercapainya kesepakatan bersama.

Stabilitas sosial dianggap sebagai fondasi penting untuk menjaga kelancaran roda perekonomian nasional yang tengah menghadapi tantangan global.

Selain itu, para cendekiawan juga menyuarakan perlunya reformasi parlemen agar lebih profesional, efisien, dan nasionalis.

“Parlemen yang kuat dan bermartabat merupakan pilar penting bagi tegaknya demokrasi Indonesia,” ujar mereka.

Pernyataan ditutup dengan ajakan untuk terus menjaga semangat kebangsaan.

“Dengan semangat persaudaraan lintas iman, mari kita jaga Indonesia sebagai rumah bersama yang damai, adil, dan penuh kasih bagi seluruh warganya,” seru mereka.

Penulis :
Ahmad Yusuf