Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Inflasi Rendah Bukan Jaminan Ekonomi Sehat, Amin Ak Ingatkan Pentingnya Daya Beli Masyarakat

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Inflasi Rendah Bukan Jaminan Ekonomi Sehat, Amin Ak Ingatkan Pentingnya Daya Beli Masyarakat
Foto: Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI Amin Ak (sumber: DPR RI)

Pantau - Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI, Amin Ak, mengingatkan bahwa capaian inflasi rendah yang selama ini dibanggakan perlu dipahami secara lebih jernih dan berimbang.

Amin menilai bahwa stabilitas harga memang penting, namun tidak boleh mengabaikan kondisi nyata daya beli masyarakat yang kian tertekan.

"Inflasi yang rendah tentu patut dijaga. Tetapi kalau toko-toko sepi, UMKM lesu, dan masyarakat menahan belanja, maka inflasi rendah itu perlu kita baca sebagai alarm dini, bukan sekadar prestasi," ungkapnya.

Menurut Amin, Indonesia sebagai negara dengan konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB), sangat bergantung pada kekuatan daya beli masyarakat untuk menjaga kesehatan ekonominya.

Ia menegaskan bahwa apabila konsumsi masyarakat melemah, maka stabilitas makro ekonomi yang dibangun pun tidak akan bertahan lama.

"Ekonomi yang sehat itu bukan hanya angkanya bagus, tapi juga dirasakan di warung, pasar, dan rumah tangga. Inflasi rendah harus berjalan seiring dengan pendapatan yang kuat dan lapangan kerja yang aman," ia mengungkapkan.

Inflasi Rendah Bisa Jadi Sinyal Lemahnya Permintaan

Amin menjelaskan bahwa inflasi rendah bisa disebabkan oleh dua hal utama, yaitu meningkatnya efisiensi dan produktivitas, atau justru karena melemahnya permintaan masyarakat.

Ia menyatakan bahwa hal yang perlu diwaspadai adalah jika inflasi rendah terjadi bukan karena efisiensi, tetapi karena masyarakat menahan konsumsi akibat tekanan ekonomi.

Untuk itu, Amin mendorong agar Bank Indonesia dan pemerintah memperkuat sinkronisasi antara kebijakan moneter dan fiskal, dengan fokus yang lebih besar pada penguatan ekonomi riil.

Ia menekankan bahwa kebijakan moneter seharusnya lebih berpihak pada sektor produktif, khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang merupakan tulang punggung ekonomi nasional.

Di sisi fiskal, menurutnya, anggaran negara harus diarahkan untuk benar-benar berdampak pada peningkatan daya beli masyarakat secara langsung.

"Perlindungan terhadap pendapatan dan upah riil pekerja menjadi kunci agar rumah tangga merasa aman secara ekonomi dan berani meningkatkan konsumsi," jelasnya.

Amin menambahkan bahwa seluruh kebijakan tersebut harus bermuara pada penciptaan lapangan kerja yang berkualitas dan berkelanjutan.

"Inflasi rendah akan benar-benar menjadi kabar baik jika masyarakat merasa aman untuk belanja, usaha berani ekspansi, dan pekerja yakin dengan pendapatannya," tegas politisi Fraksi Partai PKS tersebut.

Ia menegaskan bahwa pandangannya bukan untuk melemahkan optimisme pemerintah, tetapi sebagai masukan agar arah kebijakan ekonomi semakin tepat sasaran.

"Kita ingin pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkualitas, dan inklusif. Stabilitas harga adalah fondasi, tapi daya beli rakyat adalah mesinnya. Keduanya harus berjalan bersamaan," pungkasnya.

Penulis :
Shila Glorya