Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Baru 23 Persen SPPG Lulus Sertifikat Laik Higiene, Wamenkes Dorong Percepatan Demi Keamanan Program MBG

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Baru 23 Persen SPPG Lulus Sertifikat Laik Higiene, Wamenkes Dorong Percepatan Demi Keamanan Program MBG
Foto: (Sumber: Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus (dua dari kanan), Wakil Kepala BGN Nanik S Deyang (kanan) mengunjungi SMK Negeri 1 Jakarta di hari pertama MBG digulirkan kembali di sekolah di Jakarta, Kamis (8/1/2026). ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari.)

Pantau - Hingga Januari 2026, tercatat sebanyak 4.535 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah lulus Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) untuk melayani program Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh Indonesia.

Jumlah tersebut baru mencakup 23 persen dari total 19.188 SPPG yang tersebar di berbagai wilayah.

Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, menyatakan bahwa capaian ini masih harus ditingkatkan dan meminta seluruh Dinas Kesehatan daerah untuk mempercepat proses sertifikasi.

“Bersyukur hari ini sudah 4.535 SPPG yang sudah lulus sertifikat. Itu artinya itu termasuk pemeriksaan laboratoriumnya, semua dicek. Ada yang belum baik, ya harus memperbaiki dulu untuk menjadi baik,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut disampaikan saat kunjungan kerja ke SMK Negeri 1 Jakarta, bertepatan dengan hari pertama pelaksanaan kembali program MBG di sekolah-sekolah tahun 2026.

Penerima MBG Diperluas, Wamenkes Ingatkan Pelaksanaan Perpres

Dalam kesempatan yang sama, Wamenkes mengingatkan agar Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 tentang Perluasan Penerima MBG dilaksanakan secara menyeluruh.

Perluasan ini mencakup guru, tenaga tata usaha, dan tenaga kebersihan sekolah, bukan hanya peserta didik.

“Keputusan dari Presiden kan juga menambah penerima manfaat, bukan seperti di sekolah ini yang tenaganya belum mendapatkan MBG. Nah, ini kami mohon agar mereka juga mendapat manfaatnya. Jangan hanya murid, tetapi guru dan semua pegawai yang ada di sekolah ini bisa mendapat makanan,” tegasnya.

Perlu Pendekatan Medis dan Evaluasi Dampak Gizi Siswa

Wamenkes juga menekankan pentingnya pengukuran dampak MBG terhadap peningkatan gizi siswa secara ilmiah dan terukur.

“Dampak langsungnya harus dihitung, enggak boleh asal-asalan, oleh karena itu butuh proses. Hari ini belum bisa kalau ditanya angkanya berapa, karena ini sesuatu yang harus dikerjakan dengan teliti karena ini harus dilakukan secara medis,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pendekatan ilmiah sangat penting agar program ini tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan yang konkret.

Penulis :
Ahmad Yusuf