
Pantau - Tekanan utang Amerika Serikat dinilai kian meningkat seiring perpecahan politik yang semakin tajam dan kebijakan fiskal kontroversial, meskipun kinerja ekonomi jangka pendek negara tersebut masih tergolong solid.
Gambaran besarnya utang nasional Amerika Serikat tercermin dari tulisan National Debt Clock di New York yang dilewati pejalan kaki pada 4 Juni 2025.
Kantor Anggaran Kongres Amerika Serikat atau Congressional Budget Office yang bersifat nonpartisan merilis analisis bahwa rancangan undang-undang pemotongan pajak Presiden Donald Trump diperkirakan akan mengurangi penerimaan pajak sebesar 3,7 triliun dolar AS.
Analisis CBO tersebut juga menyebutkan bahwa kebijakan pemotongan pajak akan menambah sekitar 2,4 triliun dolar AS terhadap defisit negara dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan.
Para ahli menilai perpecahan politik yang semakin tajam mempersulit upaya pemerintah Amerika Serikat untuk memperlambat laju defisit anggaran.
Salah satu chief investment officer Bridgewater Associates, Karen Karniol-Tambour, menyatakan bahwa tidak ada satu ambang batas tertentu dari tingkat utang yang secara langsung memicu tekanan pasar.
Ia mengungkapkan bahwa "Tidak ada angka ajaib di mana investor melakukan aksi mogok beli", ungkapnya, seraya menjelaskan bahwa pasar tidak bereaksi pada satu titik angka tertentu.
Karen Karniol-Tambour memperingatkan bahwa utang negara akan menjadi semakin sulit dikelola ketika pertumbuhan ekonomi dan produktivitas melemah.
Ia menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang lambat dapat menyebabkan beban utang meningkat bahkan tanpa adanya tambahan pengeluaran baru.
Menurutnya, kebutuhan belanja yang lebih tinggi di sektor pertahanan, infrastruktur, dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence turut menambah tekanan pada keuangan publik Amerika Serikat.
Profesor hukum Universitas Yale, Natasha Sarin, menyampaikan bahwa rasio utang terhadap produk domestik bruto Amerika Serikat berpotensi mendekati 140 persen.
Ia menjelaskan bahwa proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi yang lebih realistis terkait kenaikan pengeluaran program jaminan sosial serta ketidakpastian pendapatan negara.
Natasha Sarin menyatakan bahwa "Kita sedang menuju krisis jaminan sosial", ujarnya, untuk menegaskan tingkat kekhawatiran terhadap keberlanjutan sistem tersebut.
Ia menjelaskan bahwa dana perwalian yang menopang program-program sosial utama diperkirakan akan habis pada awal dekade 2030-an.
Natasha Sarin menilai dukungan politik untuk upaya pengurangan defisit anggaran saat ini masih sangat terbatas dan berbeda dengan era 1990-an ketika Amerika Serikat sempat mencapai surplus anggaran.
Sementara itu, kepala ekonom Goldman Sachs Jan Hatzius menyatakan bahwa Amerika Serikat masih memiliki kapasitas fiskal yang lebih besar dibandingkan banyak negara maju lainnya.
Meski demikian, Jan Hatzius memperingatkan bahwa tren demografi serta meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang membuat penyesuaian fiskal jangka panjang menjadi semakin sulit.
- Penulis :
- Aditya Yohan








