Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Mayoritas Siswa Sekolah Rakyat Ingin Kuliah, Kemensos Siapkan Jalur Lanjutan dan Pemetaan Potensi

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Mayoritas Siswa Sekolah Rakyat Ingin Kuliah, Kemensos Siapkan Jalur Lanjutan dan Pemetaan Potensi
Foto: (Sumber: Guru memberikan penjelasan kepada siswa di laboratorium fisika Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 9 Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Minggu (11/1/2026). Laboratorium itu berada dalam satu lingkungan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Kementerian Sosial sekaligus salah satu fasilitas yang akan ditinjau langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam rangka peresmian 166 Sekolah Rakyat rintisan, Senin (12/1/2026). ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo.)

Pantau - Kementerian Sosial mencatat bahwa mayoritas siswa Sekolah Rakyat jenjang SMA memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi setelah lulus.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan bahwa hasil survei terhadap lebih dari 6.000 siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) menunjukkan sekitar 60 persen atau 3.600 siswa ingin kuliah.

"Dari survei lebih dari 6.000 siswa SRMA yang saat ini belajar, sekitar 60 persen ingin kuliah dan meneruskan ke pendidikan tinggi," ujar Saifullah saat meninjau persiapan peresmian 166 Sekolah Rakyat oleh Presiden Prabowo Subianto di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Minggu (11/1/2026).

Pemetaan Potensi dan Dukungan Lintas Sektor

Sementara itu, 40 persen siswa lainnya menyatakan minat untuk menjadi pekerja terampil, baik di dalam maupun luar negeri, atau berwirausaha setelah lulus.

Untuk mendukung aspirasi tersebut, Kementerian Sosial telah menyiapkan berbagai instrumen pendukung, termasuk kerja sama lintas kementerian, lembaga, dan pihak swasta.

"Kami sudah melakukan nota kesepahaman dengan kementerian dan lembaga terkait, juga dengan pihak swasta, untuk menyiapkan jalur lanjutan bagi para lulusan," terang Saifullah.

Kemensos juga memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk memetakan potensi siswa dari hampir 16.000 peserta didik Sekolah Rakyat.

Hasil pemetaan menunjukkan:

37,4 persen atau 1.828 siswa berbakat di bidang STEM (Sains, Teknologi, Rekayasa, Matematika), termasuk 1.204 siswa dengan potensi di bidang teknik seperti mekanik, otomotif, sipil, industri, dan arsitektur.

39,6 persen atau 1.938 siswa memiliki potensi di bidang sosial.

23 persen atau 1.123 siswa di bidang bahasa.

16 persen atau 8.860 siswa menunjukkan minat dan potensi di bidang penegakan hukum seperti notaris, hakim, tentara, polisi, dan pengacara.

Program Prioritas Nasional untuk Pengentasan Kemiskinan

Sekolah Rakyat merupakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga di desil 1–4 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Program ini terintegrasi dengan berbagai layanan pemerintah, seperti:

Cek Kesehatan Gratis

Makan Bergizi Gratis

Jaminan Kesehatan PBI-JKN

Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih

Program Tiga Juta Rumah bagi keluarga siswa

Dasar hukum program ini adalah Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Pengentasan Kemiskinan Ekstrem.

Hingga 2025, telah dibangun 166 titik Sekolah Rakyat dengan kapasitas sekitar 16.000 siswa, didukung oleh 2.400 guru dan lebih dari 4.000 tenaga kependidikan pada jenjang SD, SMP, dan SMA.

Fasilitas pembelajaran di Sekolah Rakyat sudah dilengkapi dengan papan interaktif digital, laptop berinternet, serta seragam khusus bagi siswa, guru, dan wali asrama.

Pada tahap awal, sekolah-sekolah ini menggunakan fasilitas milik Kementerian Sosial, Balai Latihan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan, dan aset pemerintah daerah.

Pemerintah daerah juga telah menyiapkan lahan untuk pembangunan gedung permanen, dan Kementerian Pekerjaan Umum menargetkan pembangunan 104 gedung permanen Sekolah Rakyat pada 2026.

Salah satu lokasi yang telah disiapkan untuk pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat berada di Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau.

Penulis :
Gerry Eka