
Pantau - Anggota Komisi XII DPR RI Ateng Sutisna menyatakan Indonesia memiliki posisi strategis untuk tampil sebagai salah satu pemimpin dunia dalam arsitektur pasar karbon global berkat modal ekologis, historis, dan institusional yang kuat.
Ia menyebut Indonesia merupakan negara mega biodiversitas peringkat ketiga dunia setelah Brasil dan Kongo.
Di balik kekayaan biodiversitas tersebut, Indonesia juga menghadapi ironi karena dalam periode tertentu pernah tercatat sebagai negara dengan tingkat deforestasi tertinggi di dunia.
Ateng Sutisna menyampaikan “Indonesia ini paradoks, memiliki kekayaan biodiversitas yang luar biasa tetapi juga pernah dicatat sebagai negara dengan tingkat deforestasi tertinggi, dan justru dari situ dunia melihat Indonesia sebagai kunci dalam agenda pemulihan lingkungan dan pengendalian perubahan iklim,” ungkapnya.
Sejak awal tahun 2000-an Indonesia tercatat sebagai salah satu negara penerima hibah internasional terbesar untuk program reforestasi dan pemulihan hutan.
Kepercayaan internasional terhadap Indonesia diperkuat dengan keberadaan lembaga riset kehutanan global seperti CIFOR dan ICRAF yang berkantor pusat di Bogor.
Keberadaan lembaga-lembaga tersebut menunjukkan posisi strategis Indonesia dalam tata kelola kehutanan global.
Ia menyampaikan bahwa jauh sebelum Paris Agreement, Indonesia telah menjadi lokasi uji coba berbagai skema perdagangan karbon seperti REDD, REDD+, dan REDD++, serta berbagai platform internasional lainnya.
Ia menyatakan “Sebelum Paris Agreement, Indonesia sudah menjadi lokasi uji coba berbagai skema perdagangan karbon, sehingga pengalaman Indonesia sangat panjang dan seharusnya menjadi modal besar dalam pasar karbon dunia,” ujarnya.
Ateng Sutisna juga menyinggung keberadaan pasar karbon domestik melalui IDX Carbon yang termasuk salah satu yang pertama dibentuk.
Meskipun demikian, pengakuan internasional terhadap platform dan mekanisme pasar karbon Indonesia dinilai masih belum optimal.
Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dinilai masih perlu menjalin kerja sama dengan lembaga standar internasional seperti Verra dan Gold Standard dalam mekanisme penghitungan karbon.
Kondisi tersebut menunjukkan Indonesia telah melangkah jauh dalam pembangunan pasar karbon namun masih perlu memperkuat kepercayaan dunia.
Ateng Sutisna menyampaikan “Platform sudah ada dan pasar sudah dibentuk, tinggal memastikan mekanismenya dapat diterima dunia,” katanya.
Ia menegaskan KTT Pasar Karbon harus dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk menunjukkan inisiatif konkret dan kepemimpinan Indonesia dalam perdagangan karbon global.
Ia mengingatkan Indonesia tidak hanya menjadi pasar karbon, tetapi juga diakui sebagai pemain utama di tingkat global.
Setelah KTT Pasar Karbon, Indonesia juga bersiap menyelenggarakan Konferensi Perubahan Iklim berikutnya.
Langkah tersebut dinilai akan semakin mengukuhkan posisi Indonesia sebagai salah satu pemimpin dunia dalam upaya pengendalian perubahan iklim hingga tahun 2030.
- Penulis :
- Aditya Yohan








