Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Lifestyle

Gerakan Menanam Pohon di NTB Jadi Upaya Memulihkan Alam dan Menjaga Ketahanan Lingkungan

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Gerakan Menanam Pohon di NTB Jadi Upaya Memulihkan Alam dan Menjaga Ketahanan Lingkungan
Foto: (Sumber: Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal melakukan penanaman bibit pohon di kawasan Bendungan Meninting, Lombok Barat. ANTARA/HO-Pemprov NTB.)

Pantau - Gerakan menanam pohon kembali menjadi perhatian di Nusa Tenggara Barat (NTB) setelah sejumlah wilayah mengalami bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, longsor, dan kerusakan infrastruktur dalam beberapa bulan terakhir.

Musim hujan dalam beberapa waktu terakhir menghadirkan pemandangan berbeda di sejumlah daerah di NTB.

Sungai-sungai kecil yang dahulu tenang berubah menjadi aliran deras.

Lumpur mengalir ke permukiman, jalan rusak, dan beberapa wilayah mengalami banjir bandang yang sebelumnya jarang terjadi.

Fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa keseimbangan alam di provinsi kepulauan itu sedang menghadapi tekanan besar.

Kondisi tersebut berkaitan dengan perubahan tutupan lahan yang terjadi selama bertahun-tahun.

Hutan yang dahulu menjadi benteng alami perlahan berkurang akibat alih fungsi lahan.

Pembukaan kebun dan aktivitas ekonomi sering kali tidak mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

Ketika vegetasi hilang, tanah kehilangan kemampuannya menahan air.

Air hujan yang seharusnya meresap ke dalam tanah berubah menjadi aliran permukaan yang membawa lumpur, batu, dan material lain ke wilayah hilir.

Dalam situasi tersebut gerakan menanam pohon kembali menjadi wacana penting di berbagai daerah.

Pemerintah daerah, masyarakat, perguruan tinggi, hingga sektor swasta mulai menghidupkan kembali semangat penghijauan.

Pemerintah Provinsi NTB menyiapkan ratusan bibit pohon untuk dibagikan kepada masyarakat untuk ditanam di lingkungan masing-masing.

Penghijauan Dilakukan di Sejumlah Wilayah

Kesadaran menjaga lingkungan mulai muncul kembali di berbagai daerah di NTB melalui kegiatan penanaman pohon.

Di Lombok Tengah ratusan bibit pohon ditanam di kawasan hutan Desa Tumpak untuk memperkuat tutupan lahan.

Penanaman tersebut juga bertujuan menjaga ketersediaan air tanah.

Jenis tanaman yang dipilih tidak hanya tanaman keras tetapi juga tanaman buah yang diharapkan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Di Sumbawa rehabilitasi daerah aliran sungai dilakukan melalui penanaman puluhan ribu pohon di kawasan hutan produksi terbatas.

Program tersebut diarahkan untuk memperbaiki kondisi ekologis wilayah tangkapan air sekaligus memperkuat produktivitas lahan pertanian di sekitarnya.

Di Lombok Timur kegiatan penghijauan juga menyasar kawasan wisata pegunungan Sembalun.

Penanaman pohon di perbukitan dilakukan untuk memulihkan fungsi ekologis kawasan penyangga serta mengurangi risiko longsor dan menjaga sumber air bagi masyarakat.

Pohon Berperan Penting Menjaga Ekosistem

Gerakan menanam pohon dipandang sebagai langkah dasar untuk memulihkan ekosistem yang terganggu.

Pohon berfungsi seperti infrastruktur alami yang bekerja tanpa terlihat.

Akar pohon menahan tanah, batang menyimpan karbon, dan daun membantu menjaga keseimbangan siklus air.

Data dari Arbor Day Foundation menyebut satu pohon dewasa dapat menyerap sekitar 21 kilogram karbon dioksida setiap tahun.

Jika ribuan pohon ditanam dan tumbuh dengan baik maka kontribusinya terhadap pengurangan emisi karbon menjadi sangat besar.

Di NTB manfaat pohon juga berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan.

Sektor tersebut sangat bergantung pada ketersediaan air.

Ketika tutupan hutan berkurang daya serap tanah terhadap air ikut menurun sehingga sumber mata air menyusut dan musim kemarau terasa lebih panjang.

Penanaman pohon menjadi salah satu cara untuk memperbaiki siklus air di alam.

Akar pohon membantu air hujan meresap ke dalam tanah dan mengisi cadangan air bawah tanah sehingga membantu menjaga keberlanjutan mata air.

Di wilayah pesisir vegetasi seperti mangrove, cemara laut, dan ketapang juga berfungsi melindungi wilayah dari gelombang besar dan abrasi.

Di Kota Mataram ribuan pohon ditanam di sepanjang garis pantai untuk memperkuat ketahanan wilayah pesisir terhadap dampak perubahan iklim.

Tantangan Penghijauan dan Peran Masyarakat

Gerakan menanam pohon di NTB kini mulai berkembang melalui pendekatan ekonomi.

Banyak program penghijauan menggunakan tanaman produktif seperti kopi, alpukat, durian, dan kemiri.

Pendekatan tersebut memberi insentif bagi masyarakat untuk merawat pohon yang ditanam.

Di Dompu penanaman pohon kemiri dikembangkan sebagai model kehutanan berbasis masyarakat yang dapat menjaga tutupan lahan sekaligus memberikan potensi pendapatan bagi petani.

Pendekatan agroforestri juga diterapkan dalam rehabilitasi lahan di Pulau Sumbawa dengan menggabungkan tanaman kehutanan dan tanaman pertanian dalam satu lahan.

Namun tantangan terbesar dalam penghijauan bukan hanya menanam pohon tetapi memastikan pohon tersebut tumbuh hingga dewasa.

Banyak program penanaman pohon gagal karena berhenti pada tahap seremonial tanpa perawatan jangka panjang.

Oleh karena itu penanaman pohon perlu diikuti program pemeliharaan yang melibatkan masyarakat.

Model adopsi pohon mulai diterapkan di beberapa daerah dengan memberikan tanggung jawab kepada individu atau kelompok untuk merawat pohon yang ditanam.

Pemerintah daerah juga diharapkan memperkuat kebijakan tata ruang untuk melindungi kawasan hutan dan daerah resapan air.

Kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, lembaga pendidikan, komunitas lokal, dan generasi muda dinilai menjadi kunci dalam keberhasilan gerakan penghijauan.

Gerakan menanam pohon dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi keberlanjutan daerah.

Pohon yang ditanam saat ini mungkin baru memberikan manfaat beberapa tahun kemudian.

Namun dari langkah tersebut fondasi keberlanjutan lingkungan di NTB dapat dibangun.

Penulis :
Gerry Eka