
Pantau - Suku Dinas Lingkungan Hidup Kecamatan Kramat Jati memprioritaskan pengangkutan sampah lama di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk menekan bau menyengat yang berpotensi menimbulkan keluhan warga sekitar.
Prioritas tersebut dilakukan karena sampah lama memiliki tingkat pembusukan lebih tinggi dan menjadi sumber utama bau tidak sedap di kawasan pasar.
"Kita prioritaskan pengangkutan di sampah lama terlebih dahulu agar meminimalisir bau yang ditimbulkan dari sampah ini," ungkap petugas Sudin LH Kramat Jati.
Petugas menjelaskan sampah lama ditandai dengan warna hitam dan kondisi membusuk, berbeda dengan sampah baru yang belum mengalami proses pembusukan.
"Sampah lama warnanya sudah hitam dan menimbulkan bau. Kalau sampah baru, belum terjadi pembusukan. Karena itu, kita fokus angkut sampah lama terlebih dahulu supaya tidak menimbulkan komplain dari warga," ujarnya.
Dalam proses pengangkutan, petugas menghadapi kendala teknis akibat kondisi sampah yang bercampur dan basah.
Timbunan sampah yang padat menyulitkan pengambilan menggunakan sekop karena material harus dicongkel terlebih dahulu.
"Kalau langsung di-shovel, karena padat, alat bisa sampai mengangkat ban belakang. Jadi, kita pakai backhoe untuk menggemburkan sampah agar lebih mudah dinaikkan ke truk," kata petugas.
Faktor cuaca juga memengaruhi kelancaran pengangkutan karena saat hujan deras aktivitas terpaksa dihentikan sementara demi keselamatan petugas dan operator.
Meski demikian, pengangkutan sampah di Pasar Induk Kramat Jati tetap dilakukan setiap hari tanpa libur.
Volume sampah harian di Pasar Induk Kramat Jati mencapai sekitar 180 hingga 200 ton sehingga kapasitas angkut kerap tidak sebanding dengan jumlah sampah yang dihasilkan.
Kondisi penumpukan semakin berat pada akhir November hingga Desember seiring peningkatan volume sampah saat musim buah.
Penurunan kapasitas angkut sempat terjadi akibat sejumlah armada menjalani perbaikan dan pemeliharaan.
Setelah armada kembali beroperasi, Sudin LH Kramat Jati memaksimalkan pengangkutan sampah secara intensif.
Dalam lima hari terakhir, hampir 168 kendaraan dikerahkan untuk mengurangi timbunan sampah lama.
"Sekarang, pengangkutan sudah kembali optimal. Kita terus kejar agar kondisi cepat normal dan bau bisa ditekan semaksimal mungkin," ungkap petugas.
Tumpukan sampah lama berkurang signifikan setelah pengangkutan intensif dengan ratusan armada truk menuju TPST Bantargebang.
Hampir seluruh sampah lama yang sempat menggunung telah berhasil diangkut dari kawasan pasar.
Hingga hari kelima penanganan, sekitar 168 truk mengangkut sampah dengan total volume mendekati 2.000 ton.
Pada Senin, 12 Januari, Sudin LH Jakarta Timur kembali memploting 36 kendaraan tambahan.
Target pengangkutan tambahan berkisar antara 350 hingga 500 ton dengan skema dua rit per hari.
Dengan skema tersebut, total volume sampah yang terangkut diproyeksikan melebihi 2.300 ton.
Pengurangan tumpukan sampah berdampak langsung pada berkurangnya bau menyengat di sekitar Pasar Induk Kramat Jati.
Penanganan lonjakan sampah sebelumnya ditargetkan tuntas dalam lima hari karena dipicu peningkatan volume selama musim buah.
Sebanyak 25 armada perbantuan dikerahkan dengan prioritas dua rit per hari menuju TPST Bantargebang.
Penanganan melibatkan 23 pengemudi, dua operator alat berat, dan empat pengawas lapangan.
Proses pengangkutan didukung 13 dump truck, 10 tronton, dan dua sekop.
Pengangkutan intensif dilakukan sesuai Perda Nomor 3 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah dan Pergub Nomor 102 Tahun 2021 tentang Kewajiban Pengelolaan Sampah di kawasan dan perusahaan komersial.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







