Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Mendagri Tito Karnavian Tinjau Dampak Banjir dan Longsor di Bener Meriah, Dorong Relokasi Warga Rawan Bencana

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Mendagri Tito Karnavian Tinjau Dampak Banjir dan Longsor di Bener Meriah, Dorong Relokasi Warga Rawan Bencana
Foto: (Sumber: Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian (tengah) menyerahkan bantuan gerobak dorong di Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Aceh, Minggu (11/1/2026). Mendagri yang juga Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi pascabencana Sumatera menyerahkan bantuan 500 gerobak dorong kepada praja IPDN dan anggota TNI/Polri untuk membantu pemulihan daerah bencana banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/agr (ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA))

Pantau - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian melakukan inspeksi langsung ke sejumlah lokasi terdampak banjir dan longsor di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, untuk memastikan penanganan bencana berjalan serta melihat kondisi infrastruktur dan permukiman warga di lapangan.

Inspeksi tersebut dilakukan pada Selasa, 13 Januari 2026, dengan Mendagri didampingi Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, Bupati Bener Meriah Tagore Abu Bakar, serta sejumlah pejabat terkait.

Salah satu lokasi utama yang ditinjau adalah Jembatan Jamur Ujung di Kecamatan Wih Pesam yang mengalami kerusakan parah akibat banjir dan longsor.

Mendagri menjelaskan kerusakan jembatan dipicu perubahan aliran sungai yang sebelumnya kecil menjadi melebar sehingga menggerus struktur tanah penyangga.

"Ini betul-betul longsor terjadi ini, sungai yang tadinya kecil menjadi lebar seperti ini dan membuat jembatan roboh," kata Tito Karnavian, ungkapnya.

Sebagai Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Mendagri mengapresiasi langkah cepat TNI dalam melakukan penanganan darurat di lokasi terdampak.

Ia menyebut perbaikan sementara jembatan telah diselesaikan dalam waktu singkat sehingga akses masyarakat kembali dapat digunakan.

"Tapi alhamdulillah ini teman-teman dari TNI cepat sekali ini 10 hari, di sana 4 hari, selesai," ujarnya.

Meski perbaikan infrastruktur sementara telah dilakukan, Mendagri menyoroti kondisi permukiman warga di sekitar lokasi yang dinilai sangat rawan bencana.

Secara fisik, beberapa rumah warga tidak mengalami kerusakan berat, namun berada di kawasan dengan tingkat risiko longsor yang tinggi.

Mendagri menegaskan rumah-rumah tersebut tidak masuk kategori rusak ringan, sedang, maupun berat sehingga tidak mendapatkan bantuan kerusakan.

"Tapi kita lihat rumah-rumah ini, ini rumah-rumah ini tidak terdampak. Jadi kalau seandainya dikatakan rusak ringan, sedang, berat, ya dia nggak dapat apa-apa. Tapi lihat lokasinya, lokasinya ini rawan sekali," ujarnya.

Ia menjelaskan struktur tanah di kawasan tersebut didominasi pasir sehingga sangat mudah tergerus air.

Mendagri menilai jika hujan lebat kembali terjadi, kawasan tersebut berpotensi mengalami longsor susulan yang membahayakan warga.

"Ini kalau seandainya didiamkan, ada hujan lebat lagi, struktur tanahnya dari pasir. Ini bisa terjadi tergerus, jadi mau enggak mau kita harus relokasi," katanya.

Kunjungan ke Bener Meriah merupakan agenda lanjutan setelah Mendagri menggelar rapat bersama para kepala daerah se-Provinsi Aceh di Kantor Gubernur Aceh.

Rapat tersebut bertujuan menyerap aspirasi daerah terkait percepatan penanganan pascabencana yang perlu ditindaklanjuti pemerintah pusat.

Mendagri menyampaikan pihaknya telah melakukan pemetaan daerah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Berdasarkan pemetaan tersebut, Kabupaten Bener Meriah menjadi salah satu daerah di Aceh yang memerlukan dukungan percepatan pemulihan.

Selain Bener Meriah, pada hari yang sama Mendagri juga meninjau daerah terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang dan Kabupaten Gayo Lues.

Setelah menyelesaikan agenda di Aceh, Mendagri dijadwalkan melanjutkan peninjauan ke wilayah terdampak bencana di Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Penulis :
Ahmad Yusuf