
Pantau - Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan kembali membuka peluang pembiayaan proyek-proyek kebudayaan melalui program Dana Indonesiana yang akan dibuka kembali pada Februari 2026.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa Dana Indonesiana dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan budaya, termasuk yang telah diakui UNESCO seperti silat.
"Kami memiliki satu skema pembiayaan, yaitu Dana Indonesiana, yang dapat dimanfaatkan untuk proyek-proyek kebudayaan. Saat ini skema tersebut sedang ditutup dan akan dibuka kembali pada bulan Februari 2026. Dana Indonesiana berlaku untuk penyelenggaraan berbagai kegiatan budaya, khususnya yang telah diakui oleh UNESCO, seperti silat," ungkapnya.
Dana Indonesiana disalurkan melalui pemanfaatan Dana Abadi Kebudayaan sebagai bentuk bantuan pemerintah kepada para pelaku budaya.
Program ini merupakan pelaksanaan amanat dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Pemerintah juga telah menambah anggaran Dana Indonesiana sebesar Rp1 triliun, sehingga total dana yang tersedia tahun ini mencapai Rp6 triliun.
Diplomasi Budaya Lewat Silat di Eropa
Kementerian Kebudayaan bersama Federasi Nederlandse Pencak Silat Federatie (NPSF) tengah mengembangkan kerja sama berkelanjutan untuk pelestarian budaya, khususnya silat.
Kolaborasi ini dirancang melalui skema hibah, kerja sama pendidikan, serta kemitraan dengan komunitas diaspora Indonesia di luar negeri.
Silat yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO dinilai memiliki potensi besar dalam mendorong diplomasi budaya Indonesia secara global.
Perwakilan NPSF, Bradley Jacobs, mengungkapkan bahwa organisasinya aktif membangun jejaring dengan berbagai pemangku kepentingan, baik di Indonesia maupun Eropa.
Kegiatan kebudayaan dan pelatihan silat yang dilaksanakan NPSF melibatkan tokoh budaya, organisasi nasional, serta mitra lokal di Indonesia, termasuk wilayah Surakarta dan sekitarnya.
Saat ini, sekitar 20 persen populasi Belanda atau sekitar 2 hingga 2,5 juta orang memiliki garis keturunan Indonesia, yang menjadi potensi besar dalam mengembangkan diplomasi budaya.
NPSF menekankan bahwa silat bukan sekadar cabang olahraga, melainkan media pelestarian nilai-nilai budaya.
Program-program yang dikembangkan NPSF berbasis pada nilai-nilai filosofis tradisi silat dan disusun melalui kajian internal sesuai kebutuhan komunitas, khususnya di negara-negara Eropa dengan populasi diaspora Indonesia yang signifikan.
- Penulis :
- Arian Mesa







