
Pantau - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membuka peluang untuk menambah jumlah pesawat dalam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Jawa Tengah guna mengurangi intensitas hujan di wilayah rawan banjir, terutama di Kabupaten Kudus dan sekitarnya.
Kepala BNPB Suharyanto menjelaskan bahwa operasi tersebut dijadwalkan berlangsung selama lima hari, dimulai pada 15 Januari 2026 dan saat ini masih melibatkan satu unit pesawat.
Hal itu disampaikan Suharyanto dalam rapat koordinasi bersama Bupati Kudus Sam’ani Intakoris dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di ruang rapat pimpinan DPRD Kudus, Jumat, 16 Januari 2026.
Rapat tersebut juga dihadiri oleh Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto serta Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana Sudarto.
Kemungkinan Penambahan Pesawat Jika Hujan Masih Tinggi
Suharyanto menyampaikan bahwa penggunaan satu pesawat saat ini dinilai masih mencukupi, namun tidak menutup kemungkinan akan ditambah jika curah hujan tetap tinggi.
"Di Sumatera hampir sebulan lebih melibatkan sembilan pesawat. Bahkan pernah dalam satu provinsi ada lima pesawat untuk modifikasi cuaca. Sedangkan di Jawa Tengah saat ini satu pesawat, nantinya bisa ditambah," ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa tujuan dari OMC bukan untuk menghentikan hujan sepenuhnya.
"Modifikasi cuaca ini bukan menghentikan hujan, tetapi mengurangi. Harapannya meskipun cuaca terlihat mendung, tidak terjadi hujan lebat sehingga tidak menambah debit air dari atas," ia mengungkapkan.
Suharyanto juga mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk ikut menyelenggarakan OMC sebagai bentuk penguatan penanganan bencana, seperti yang sudah dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
"Jika Pemprov Jateng ikut menyelenggarakan untuk memperkuat operasi modifikasi cuaca. BMKG juga menyelenggarakan, sehingga upaya ini bisa lebih optimal," ujarnya.
Manajemen Curah Hujan dan Dukungan BMKG
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto menjelaskan bahwa OMC bertujuan untuk mengelola curah hujan ekstrem, bukan menghilangkan hujan sama sekali.
"Kalau hujan masih terjadi di laut, bisa kita kelola supaya turun di sana dan tidak masuk ke daratan. Intinya bagaimana melakukan manajemen curah hujan agar tidak menjadi hujan ekstrem di wilayah rawan," jelasnya.
OMC di Jawa Tengah dilaksanakan mulai 15 hingga 19 Januari 2026 dengan fokus pada wilayah utara Pulau Jawa untuk mengurangi potensi hujan yang berasal dari laut sebelum masuk ke daratan.
Goeroeh menambahkan bahwa durasi operasi bisa diperpanjang atau dihentikan lebih awal tergantung pada kondisi cuaca.
"Rencananya sampai tanggal 19 Januari 2026, tetapi bisa saja diperpanjang atau dipindahkan ke daerah lain, tergantung situasi dan kondisi cuaca ke depan," ungkapnya.
Evaluasi kondisi atmosfer dilakukan secara berkala dan prakiraan cuaca diperbarui setiap tiga hari.
Melalui OMC ini, pemerintah berharap dapat menekan risiko banjir susulan di Jawa Tengah dan mendukung penanganan bencana yang tengah berlangsung.
- Penulis :
- Arian Mesa







