
Pantau - Air hujan adalah anugerah pertama bagi bumi, yang tidak hanya mendinginkan permukaan planet yang panas miliaran tahun lalu, tetapi juga memulai proses pelapukan batuan yang menjadi dasar pembentukan tanah dan kehidupan darat.
Hujan dan Awal Mula Kehidupan di Bumi
Sekitar 4,0–3,8 miliar tahun yang lalu, air hujan pertama kali jatuh ke permukaan bumi.
Air hujan berukuran sangat kecil—sekitar 0,275 nanometer—menetes ke bebatuan panas, menyebabkan pendinginan dan terbentuknya retakan-retakan yang menjadi awal proses pelapukan.
Proses pelapukan tersebut berlangsung sangat lambat namun menjadi titik mula terbentuknya tanah.
Tidak lama setelah itu, sekitar 3,5 miliar tahun lalu, muncul cyanobakteria atau alga biru-hijau, organisme bersel satu yang mampu berfotosintesis.
Cyanobakteria menggunakan sinar matahari, karbondioksida, dan air hujan untuk menghasilkan oksigen dan glukosa, yang kemudian menjadi dasar kehidupan bagi organisme multisel lainnya.
Interaksi antara air, batuan, dan aktivitas biologis cyanobakteria membentuk tanah sebagai fondasi utama ekosistem daratan.
Dari Tanah Purba hingga Pertanyaan Masa Depan
Bukti ilmiah menunjukkan tanah purba (paleosol) ditemukan di Australia dan Afrika Selatan, berusia sekitar 2,7 miliar tahun.
Temuan lainnya ditemukan di Kanada, India, Skotlandia, dan beberapa wilayah Eropa dengan usia yang lebih muda.
Sekitar 470 juta tahun lalu, tanah mulai terbentuk dengan horizon-horizon yang jelas—lapisan A, B, dan C—sejalan dengan munculnya tumbuhan multisel.
Seiring waktu, ketebalan tanah bervariasi, mulai dari kurang dari 10 cm pada tanah muda hingga hampir 2 meter pada tanah tua.
Tanah menjadi tempat tumbuhnya kehidupan: tumbuhan, hewan, dan manusia bergantung pada kestabilan tanah untuk bertahan hidup.
Namun pertanyaan besar muncul: apakah tanah akan terus lestari hingga akhir zaman bumi?
Apakah butiran air hujan yang dulu menjadi pemula kehidupan tanah, juga dapat menjadi penyebab kehancurannya?
Peran manusia menjadi faktor utama dalam menjawab pertanyaan ini, karena aktivitas manusia sangat menentukan arah keberlanjutan dan eksistensi tanah di masa depan.
- Penulis :
- Aditya Yohan
- Editor :
- Tria Dianti







