Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Kemenbud Perkuat Pelestarian Situs Cibalay dan Arca Domas untuk Pengembangan Wisata Budaya Berkelanjutan

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Kemenbud Perkuat Pelestarian Situs Cibalay dan Arca Domas untuk Pengembangan Wisata Budaya Berkelanjutan
Foto: Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat meninjau Situs Cibalay dan Arca Domas di Desa Tapos 1, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor (sumber: Kementerian Kebudayaan)

Pantau - Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk memperkuat pelestarian dan pengelolaan Situs Cibalay dan Arca Domas secara berkelanjutan agar warisan budaya tersebut tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan oleh generasi sekarang dan mendatang.

Penegasan tersebut disampaikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat melakukan kunjungan kerja ke Situs Cibalay dan Arca Domas di Desa Tapos 1, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, untuk meninjau langsung kondisi tinggalan budaya serta potensi pelindungan, penelitian, dan pengembangannya.

Potensi Situs Cibalay sebagai Punden Berundak

Fadli Zon menyatakan bahwa kawasan Situs Cibalay tidak hanya perlu dijaga, tetapi juga dibina dan dikembangkan agar memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar tanpa menghilangkan nilai keasliannya.

"Kita tidak ingin situs ini hanya dijaga, tetapi juga dibina dan dikembangkan. Ke depan, kawasan ini berpotensi menjadi objek wisata budaya, wisata sejarah, bahkan wisata religi, yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar tanpa menghilangkan nilai dan keasliannya," ungkapnya.

Situs Cibalay diketahui merupakan tinggalan budaya berupa punden berundak yang berorientasi utara–selatan mengarah ke Gunung Salak dan terdiri atas lima teras dengan bagian tertinggi berada di sisi selatan.

Tinggalan arkeologis di kawasan tersebut mencakup menhir yang tersebar di setiap teras dengan jumlah yang berbeda pada tiap tingkatannya.

Dalam peninjauan lapangan, Fadli Zon mengungkapkan kekagumannya terhadap struktur situs yang menunjukkan adanya susunan teras dan tonggak batu.

"Ini luar biasa dan terlihat adanya teras-teras yang rata, kemudian tonggak-tonggak batu yang kemungkinan merupakan bagian dari altar. Kalau dilihat sepintas, ini diperkirakan seperti konstruksi punden berundak dengan batu-batu yang disusun oleh manusia," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa susunan batu di situs tersebut kemungkinan telah mengalami pergeseran akibat faktor alam yang berlangsung dalam waktu lama.

"Seiring zaman tentu terjadi pergeseran, baik karena kondisi tanah, air, maupun tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di sekitar situs. Karena itu, susunan batu yang kita lihat sekarang bisa saja sudah berubah dari bentuk aslinya. Ini perlu kajian lebih lanjut," jelasnya.

Arca Domas Dinilai Masih Asli dan Minim Ekskavasi

Selain Situs Cibalay, Fadli Zon juga meninjau Situs Arca Domas yang berada dalam satu kawasan dan dinilai masih terjaga keasliannya serta belum banyak dilakukan ekskavasi.

"Arca Domas ini bisa kita lihat bahwa situsnya masih sangat asli, terawat, dan belum banyak dilakukan ekskavasi. Zona budaya yang selama ini ditetapkan masih sekitar enam hektar, tetapi setelah diteliti lebih lanjut, potensi kawasan situs ini bisa mencapai sekitar 62 hektar," ungkap Fadli.

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut membuka peluang besar untuk penelitian lanjutan guna memahami berbagai anomali yang ada di kawasan Arca Domas dan sekitarnya.

"Kita akan mendorong penelitian lebih lanjut untuk mengkaji anomali-anomali yang ada, sehingga kita bisa mengetahui jejak peradaban yang cukup panjang di kawasan ini. Perkiraan awal menunjukkan bahwa wilayah situs ini berasal dari sekitar 2.000 hingga 3.000 tahun yang lalu, meskipun masih memerlukan pengujian ilmiah untuk memastikan usianya," katanya.

Berdasarkan data awal Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jawa Barat, teridentifikasi sekitar 33 titik yang memiliki potensi tinggalan budaya di kawasan Situs Cibalay dan Arca Domas.

Penulis :
Shila Glorya