Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Gaya Klasik dan Pragmatis Dominasi Pekan Mode Pria Paris 2026

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Gaya Klasik dan Pragmatis Dominasi Pekan Mode Pria Paris 2026
Foto: (Sumber: Busana pria yang tampil di acara Paris Fashion Week 2026 untuk pakaian pria musim gugur/musim dingin 2026/2027 (ANTARA/Instagram @parisfashionweek).)

Pantau - Tren busana pria yang tampil di Pekan Mode Pria Paris 2026 didominasi gaya pragmatis dan tak lekang oleh waktu, mencerminkan pendekatan berisiko rendah di tengah kondisi industri mode global yang tidak pasti.

Pekan Mode Pria Paris yang berakhir pada Minggu waktu setempat ini menampilkan koleksi Musim Gugur/Musim Dingin 2026 yang dinilai lebih terukur baik dari sisi substansi maupun gaya, sebagaimana dilaporkan laman Hindustan Times.

Kepala bagian mode pria surat kabar Le Figaro Prancis, Matthieu Morge Zucconi, menilai koleksi musim ini cenderung konservatif.

“Ini merupakan musim yang cukup konservatif, tanpa adanya tawaran yang luar biasa,” ungkap Matthieu Morge Zucconi.

Kombinasi klasik setelan jas dan dasi menjadi penanda kuat di panggung peragaan, dengan palet warna yang didominasi hitam, abu-abu, krem, dan cokelat.

Jaket-jaket besar dengan bantalan bahu tebal dari musim sebelumnya kini tampil lebih pas di badan, meski potongan tetap longgar dan bernuansa tradisional.

Kepala rumah mode 3.Paradis asal Paris, Emeric Tchatchoua, mengatakan perubahan siluet tersebut dipengaruhi oleh kedewasaan dan cara pandangnya terhadap dunia.

“Saya rasa seiring bertambahnya usia dan cara pandangan saya terhadap dunia yang kini berkembang, saya ingin menciptakan siluet yang sedikit lebih pas di badan,” katanya.

Kepala desainer Louis Vuitton, Pharrell Williams, menyebut koleksi yang ditampilkannya bersifat konvensional dan dirancang untuk bertahan lama sebagai ekspresi busana yang tidak cepat usang.

Kepala bagian mode majalah GQ Prancis, Adrien Communier, menilai sikap menahan diri ini sebagai kembalinya fokus pada hal-hal mendasar.

Ia menyebut para desainer kini menciptakan pakaian yang relevan untuk kehidupan sehari-hari dan tahan dipakai lintas musim.

“Ini tentang menciptakan pakaian untuk saat ini yang tahan lama dan cocok untuk kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Meski demikian, beberapa desainer tampil lebih berani, seperti Jonathan Anderson dari Dior yang menghadirkan kemeja kotak-kotak dengan epaulet berhias rhinestones serta wig kuning pada para model.

Dior juga mendesain ulang jaket Bar khasnya dalam ukuran lebih kecil, sementara Dries van Noten menampilkan mantel jubah abu-abu dengan permata kecil tertanam.

KidSuper dan Willy Chavarria menghadirkan mantel bulu imitasi, sementara sulaman, motif bunga, jaket bomber tambal sulam, serta warna cerah seperti ungu muncul dari Dior hingga Vuitton, juga dari Issey Miyake dan Etudes Studio.

Para pengamat menilai merek-merek besar berupaya meyakinkan pelanggan untuk tidak mengambil risiko dalam memilih busana di tengah konflik internasional yang membuat konsumen gelisah dan membebani penjualan barang mewah.

Kepala pembeli fesyen Harrod's London, Simon Longland, menyebut pekan mode kali ini menawarkan fleksibilitas, kenyamanan, dan daya tahan.

“Secara umum, koleksi-koleksi tersebut terasa kurang didorong oleh tren dan lebih fokus pada menciptakan karya-karya yang memiliki tujuan—pakaian yang dimaksudkan untuk dikenakan, dihayati, dan dihargai selama beberapa musim,” ungkapnya.

Penulis :
Ahmad Yusuf