Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Taruna Akademi TNI Bersihkan Lumpur dan Hibur Siswa SD Negeri 1 Tualang Cut Pascabanjir

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Taruna Akademi TNI Bersihkan Lumpur dan Hibur Siswa SD Negeri 1 Tualang Cut Pascabanjir
Foto: (Sumber: Sejumlah Taruna Akademi TNI membersihkan endapan lumpur di halaman SD Negeri 1 Tualang Cut di Kabupaten Aceh Tamiang, Senin (26/1/2026). ANTARA/Harianto..)

Pantau - Taruna Akademi TNI membersihkan endapan lumpur dan menghibur siswa SD Negeri 1 Tualang Cut di Kabupaten Aceh Tamiang sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat pascabencana banjir agar sekolah dapat kembali digunakan untuk aktivitas belajar.

Kegiatan tersebut dilakukan untuk membantu pemulihan wilayah terdampak banjir sehingga proses belajar mengajar yang sempat terganggu dapat kembali berjalan.

Komandan Kompi C Satlat Hiu Kapten Sus Ponimin menyampaikan sekitar 80 taruna diterjunkan untuk melaksanakan pembersihan di SD Negeri 1 Tualang Cut.

Kapten Sus Ponimin mengatakan, "Saat ini kami membawa Taruna kurang lebih 80 orang untuk melaksanakan pembersihan di SD 1 Tualang Cut agar SD ini segera pulih dan digunakan untuk aktif belajar kembali," ungkapnya.

Taruna yang diterjunkan merupakan gabungan dari Akademi Militer, Akademi Angkatan Laut, Akademi Angkatan Udara, Universitas Pertahanan, serta Politeknik Siber dan Sandi Negara.

Para taruna membersihkan lumpur yang mengeras di halaman sekolah dan mengangkut material menggunakan arco.

Fokus pembersihan diarahkan pada halaman sekolah agar ruang bermain dan aktivitas luar siswa dapat kembali digunakan.

Selain area luar, para taruna juga membersihkan ruang kelas termasuk jendela dan fasilitas belajar menggunakan kain basah.

Pembersihan ruang kelas dilakukan untuk mempercepat normalisasi proses belajar mengajar yang sempat terganggu akibat banjir.

Di sela kegiatan, para taruna berinteraksi dengan siswa dengan memberi motivasi, menyapa hangat, serta bermain bola dan juggling bersama.

Interaksi tersebut bertujuan menciptakan suasana ceria dan mendukung pemulihan psikologis siswa pascabencana.

Kapten Sus Ponimin menjelaskan penugasan taruna berlangsung sekitar satu bulan dengan target pembersihan sekolah selesai hingga 13 Februari 2026 sesuai tahapan pemulihan pendidikan pascabanjir Aceh Tamiang.

Ia mengatakan, "Sudah tiga hari kita di SD ini membersihkan mengangkat lumpur-lumpur yang tertimbun yang tertumpuk yang sudah ada di belakang saya seperti yang dikerjakan anak-anak kita adik-adik taruna kita," ujarnya.

Sebelum ditempatkan di SD Negeri 1 Tualang Cut, taruna telah diterjunkan ke berbagai titik terdampak banjir lainnya seperti masjid, rumah warga, fasilitas ibadah, dan lingkungan desa di Aceh Tamiang.

Kapten Sus Ponimin menjelaskan jadwal kegiatan dimulai dengan apel pagi pukul 8 dan dilanjutkan pembersihan dari pukul 9 hingga sore hari.

Ia menyampaikan, "Sebelum kerja pertama kami apel jam 8 pagi kemudian kita pergerakan ke sini SDN Tualang Cut Aceh kita mulai jam 9 pagi Kemudian Ishoma jam 12 siang Kemudian kita lanjutkan lagi jam 1.30 siang sampai dengan jam 3.30 sore baru kita kembali ke homebase kembali di Yonif 111 Batalyon," katanya.

Pembersihan tetap berjalan meskipun bersamaan dengan aktivitas belajar sementara di sekolah.

Seluruh taruna tetap bekerja sepenuh hati tanpa terganggu oleh mobilitas kegiatan belajar.

Keterlibatan taruna merupakan atensi langsung pimpinan TNI sebagai bentuk komitmen membantu masyarakat Aceh bangkit dari bencana.

Kapten Sus Ponimin berharap SD Negeri 1 Tualang Cut segera pulih dan kegiatan belajar kembali normal.

Pelaksana Tugas Kepala SD Negeri 1 Tualang Cut Eva Yanti mengaku bersyukur atas bantuan berbagai pihak dalam pembersihan sekolah.

Eva Yanti menyampaikan jumlah siswa SD Negeri 1 Tualang Cut sebanyak 324 orang.

Ia menjelaskan belum seluruh siswa kembali bersekolah karena sebagian masih mengungsi akibat rumah mereka hancur total.

Eva Yanti menyebut kondisi sekolah saat banjir sangat parah dengan lumpur setinggi betis yang memenuhi area sekolah.

Lumpur tersebut merusak ruang kelas, perabot, dan peralatan elektronik di kantor sekolah.

Pembersihan sekolah melibatkan mahasiswa, TNI, Polri, dan Brimob.

Proses belajar mengajar telah berjalan sekitar 75 persen dan terus diupayakan optimal.

Pembelajaran saat ini difokuskan pada trauma healing bagi siswa.

Metode trauma healing dilakukan dengan mengajak siswa menceritakan kembali pengalaman banjir dan mengambil hikmah.

Eva Yanti mengatakan, "Pembelajaran tetap kami selipkan namun tidak penuh seperti biasa agar anak-anak bisa perlahan pulih secara psikologis," ungkapnya.

Jam belajar siswa disesuaikan selama masa pemulihan.

Waktu belajar ditetapkan mulai pukul 07.30 WIB hingga 11.00 WIB.

Siswa kelas satu dipulangkan lebih awal sekitar setengah jam.

Penyesuaian jam belajar tersebut merupakan arahan dari Dinas Pendidikan Aceh Tamiang.

Penulis :
Aditya Yohan