
Pantau - Prajurit TNI Angkatan Darat dari Batalyon Zeni Tempur 5 Arati Bhaya Wighina membangun jembatan modular di Aceh Utara untuk mengatasi terhambatnya akses warga dan distribusi logistik pascabanjir.
Jembatan Garuda Pulihkan Konektivitas Antarwilayah
Jembatan modular tersebut dibangun di Desa Matang Serdang dan menghubungkan tiga kecamatan, yakni Langkahan, Baktiya, dan Cot Girek, setelah jembatan sebelumnya rusak akibat banjir.
Komandan Batalyon Zeni Tempur 5 Arati Bhaya Wighina Letkol Czi Wahyu Wuhono menjelaskan bahwa jembatan yang dipasang merupakan jembatan garuda buatan dalam negeri.
"Jembatan garuda dipilih karena memiliki sistem bongkar pasang yang cepat, adaptif terhadap medan, dan efektif menggantikan akses yang terputus akibat bencana," ungkap Letkol Wahyu Wuhono.
Ia menyampaikan bahwa bentangan jembatan garuda yang dipasang memiliki panjang sekitar 30 hingga 32 meter.
Di kawasan Jambo Aye, jembatan garuda menjadi urat nadi mobilitas warga yang sebelumnya terhambat akibat jembatan rusak diterjang banjir.
Secara keseluruhan, TNI AD menargetkan pembangunan sekitar 300 jembatan di wilayah Aceh.
Jembatan yang dibangun terdiri atas berbagai jenis, yaitu jembatan Bailey, Aramco, dan jembatan gantung.
Komposisi dan jenis jembatan disesuaikan dengan kebutuhan lapangan serta tingkat kedaruratan wilayah terdampak.
Hingga saat ini, sebanyak 24 jembatan telah terpasang, termasuk di wilayah Bener Meriah dan Aceh Utara.
Pemasangan jembatan lanjutan terus dilakukan secara bertahap agar konektivitas desa, kebun, dan pusat ekonomi dapat segera pulih.
Setiap pembangunan jembatan melibatkan puluhan personel terlatih yang didukung alat berat.
Proses pengerjaan dilakukan tanpa henti, bahkan hingga malam hari, untuk mengejar waktu penyelesaian yang lebih cepat dari standar normal.
Meskipun bersifat sementara, jembatan modular dinilai mampu bertahan lama apabila dirawat dengan baik.
Jembatan modular menjadi solusi efektif sambil menunggu pembangunan jembatan permanen oleh pemerintah daerah dan instansi teknis terkait.
Dampak Sosial dan Ekonomi bagi Warga
Keuchik Desa Matang Serdang Abdul Mutaleb menyatakan rasa syukur atas pembangunan jembatan modular di wilayahnya.
Ia menyampaikan bahwa keberadaan jembatan sangat membantu memulihkan akses ekonomi warga desa dan wilayah sekitarnya.
Sebagian besar warga Desa Matang Serdang menggantungkan hidup pada sektor perkebunan sawit dan pertanian.
Terputusnya jembatan sebelumnya memaksa warga memutar hingga sejauh 30 kilometer untuk mengangkut hasil kebun.
Kerusakan jembatan juga berdampak pada sektor pendidikan karena kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 19 sempat terhenti demi keselamatan siswa.
Jalur darurat yang tersedia sebelumnya dinilai belum memadai untuk mendukung aktivitas pendidikan.
Abdul Mutaleb menyebutkan bahwa sebanyak 679 kepala keluarga dengan total 3.750 jiwa terdampak banjir di wilayah tersebut.
Dari jumlah tersebut, 144 rumah dilaporkan hilang total dan 339 rumah mengalami kerusakan berat.
Rumah pribadi Abdul Mutaleb juga mengalami kerusakan hampir 90 persen akibat banjir.
Meski demikian, ia tetap berupaya menguatkan warga dan mencari dukungan agar desanya yang terpencil mendapat perhatian pemulihan.
Upaya pemulihan dinilai semakin penting mengingat wilayah tersebut akan menghadapi bulan suci Ramadhan 2026.
- Penulis :
- Aditya Yohan





