
Pantau - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim mendorong integrasi rantai pasok dalam negeri dan pengembangan ekosistem industri nasional dari hulu ke hilir untuk mengatasi gejala deindustrialisasi di Indonesia.
Dorongan tersebut juga mencakup peningkatan investasi manufaktur domestik sebagai langkah strategis menghadapi penurunan pertumbuhan industri, pemutusan hubungan kerja, serta meningkatnya ketergantungan terhadap impor.
Chusnunia Chalim menjelaskan, “Pertumbuhan ekonomi setiap negara sangat dipengaruhi dari pertumbuhan industri yang mampu menyerap tenaga kerja secara luas”.
Kondisi tersebut berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi jangka panjang karena sektor jasa memiliki produktivitas lebih rendah dibandingkan manufaktur.
Chusnunia Chalim menekankan ekonomi gig hanya memberikan solusi jangka pendek terhadap pengangguran dan tidak bisa dijadikan tumpuan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Ia menilai penurunan kinerja industri mengindikasikan Indonesia semakin bergantung pada sektor jasa sebelum mencapai tingkat industrialisasi yang optimal, sehingga deindustrialisasi dini menjadi ancaman nyata bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Ia menjelaskan, “Hal ini bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja formal, meningkatkan produktivitas nasional dan menaikkan pendapatan rumah tangga”.
Selain itu, pemerintah disarankan memperkuat kebijakan pendidikan vokasi dan meningkatkan pelatihan kerja industri guna membangun sektor manufaktur yang kuat.
Chusnunia Chalim menegaskan, “Indonesia harus membangun kembali sektor manufaktur yang kuat agar tak mengalami stagnasi ekonomi dan terjebak dalam middle-income trap, di mana negara gagal naik ke level pendapatan tinggi karena lemahnya basis industri”.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








