
Pantau - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi mendorong penyelenggaraan ibadah haji yang inklusif, empati, dan bermartabat, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan, lanjut usia, dan penyandang disabilitas.
Dorongan tersebut disampaikan Arifah Fauzi saat memberikan pembekalan kepada calon Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Arab Saudi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.
"Keterlibatan petugas haji perempuan sangat penting untuk memastikan layanan yang lebih sensitif terhadap kebutuhan jamaah perempuan dan lansia, sekaligus memperkuat rasa aman dan kenyamanan selama pelaksanaan ibadah haji," ungkapnya.
Menteri PPPA mengapresiasi Kementerian Haji dan Umrah yang mencanangkan program Haji Ramah Lansia dan Perempuan.
Kementerian Haji dan Umrah menargetkan keterlibatan 33 persen petugas haji perempuan sebagai upaya konkret memperkuat kualitas pelayanan jamaah.
Petugas haji berperan memastikan keselamatan, perlindungan, dan rasa aman jamaah selama pelaksanaan ibadah.
"Petugas haji adalah representasi kehadiran negara. Layani jamaah dengan empati, jangan merasa paling tahu, dan jangan mengabaikan kebutuhan spesifik jamaah, khususnya perempuan dan lansia," ujarnya.
Tantangan penyelenggaraan haji ramah perempuan dinilai masih cukup besar, mulai dari keterbatasan fasilitas yang ramah privasi hingga minimnya mekanisme pengaduan.
Rendahnya pemahaman terhadap kekerasan berbasis gender juga menjadi tantangan dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Penguatan perspektif perlindungan dan kesetaraan dinilai harus menjadi bagian dari seluruh rangkaian pelayanan haji.
Arifah Fauzi menegaskan peran Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam memastikan penyelenggaraan haji yang berperspektif gender.
"KemenPPPA memiliki mandat memastikan kebijakan publik, termasuk penyelenggaraan haji, memperhatikan kesehatan reproduksi, keamanan dan privasi, pendampingan ibadah, serta dukungan psikososial bagi jamaah perempuan," katanya.
- Penulis :
- Aditya Yohan







