Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Ribuan Kapal Penuhi Dermaga Muara Angke, Nelayan Kesulitan Akses Laut dan Terkendala Cuaca

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Ribuan Kapal Penuhi Dermaga Muara Angke, Nelayan Kesulitan Akses Laut dan Terkendala Cuaca
Foto: Kondisi semrawut parkiran ribuan kapal di Dermaga T Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, Kamis 29/1/2026 (sumber: ANTARA/Risky Syukur)

Pantau - Ribuan kapal nelayan yang bersandar di Dermaga T Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, menyulitkan akses nelayan untuk berlayar mencari ikan.

Seorang nelayan bernama Barda Wijaya (43) mengungkapkan bahwa ia harus meminggirkan kapal-kapal lain agar bisa keluar ke laut.

"Kapal kan jalannya cuma maju sama mundur saja, kalau mau kita atur saja, kita mundurkan kapal. Ada kapal yang menghalangi digeser, lepas dulu tali pengikatnya," ungkapnya.

Kondisi Semrawut dan Komunikasi Antar Nelayan

Barda yang sudah menjadi nelayan sejak tahun 1998 menyatakan tidak terlalu mempermasalahkan kondisi semrawut tersebut selama komunikasi antar nelayan tetap terjaga.

"Kalau saya pribadi sih enggak terlalu berpengaruh, yang penting kan ada komunikasi saja. Jadi enak kan," ia mengungkapkan.

Rama, seorang penjaga kapal di Dermaga T, juga membenarkan bahwa area parkir kapal di dermaga tersebut memang tidak tertata dengan baik.

"Ya kalau dibilang semrawut ya memang semrawut, bisa dilihat sendiri kondisinya seperti apa," kata Rama.

Ia berharap adanya perhatian dari pihak berwenang untuk memperbaiki situasi ini.

"Ya kami berharap ada perhatian lah dari pemerintah supaya situasinya enggak seperti ini," ujarnya.

Cuaca Tak Menentu Jadi Kendala Utama

Menurut Barda, masalah utama yang dihadapi nelayan saat ini bukan hanya soal parkir kapal, melainkan cuaca yang tidak menentu.

"Jadi kayak, misalnya, angin, kayak musim sekarang-sekarang ini, mah itu yang menjadi beban," tuturnya.

Ia menyebut bahwa Februari dan Maret biasanya menjadi musim terbaik untuk menangkap ikan karena cuaca lebih bersahabat.

"Biasanya bulan ke dua atau ke tiga, Februari sampai Maret itu cuaca bagus, hasil tangkapan biasanya lebih banyak," jelasnya.

Barda, yang berasal dari Pandeglang, biasa melaut di sekitar Kepulauan Seribu untuk menangkap ikan teri dan ikan kecil lainnya.

Saat cuaca bagus, ia bisa berlayar dua kali sehari dan memperoleh hingga dua ton ikan teri serta ikan lainnya seperti ikan kembung dalam sekali melaut.

Namun saat cuaca buruk, hasil tangkapannya bisa merosot drastis.

"Tapi kalau cuaca lagi enggak bagus, pernah juga cuma dapat 25 kilogram ikan teri. Kalau cuma dapat 25 kilogram kan jadi enggak dapat apa-apa," ujarnya.

Penghasilannya pun sangat bergantung pada kondisi laut. Dalam sehari, keuntungan bersih yang pernah ia peroleh paling tinggi sekitar Rp300 ribu.

"Itu kalau lagi tangkapannya banyak, tapi kalau lagi biasa aja ya paling cuma Rp100 ribu," katanya.

Aktivitas di Dermaga T

Pada Kamis siang, berdasarkan pantauan, terlihat banyak kapal nelayan bersandar di perairan Dermaga Pulau T Muara Angke usai berlayar menangkap ikan.

Sebagian besar kapal merupakan kapal penangkap cumi dan ikan teri yang tengah parkir setelah melaut.

Penulis :
Shila Glorya