Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Kemenperin Gandeng Startup Top Loker Buka Akses Kerja Manufaktur untuk Penyandang Disabilitas

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Kemenperin Gandeng Startup Top Loker Buka Akses Kerja Manufaktur untuk Penyandang Disabilitas
Foto: Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita (kedua kiri) meninjau para siswa seusai membuka kegiatan “Pengembangan Inklusi Sektor Manufaktur untuk Disabilitas” di Semarang, Jawa Tengah, Rabu 28/1/2026 (sumber: Kemenperin)

Pantau - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperluas akses kerja bagi penyandang disabilitas di sektor industri manufaktur sebagai bagian dari pembangunan industri yang berkeadilan dan inklusif.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa penguatan sektor industri harus berjalan seiring dengan prinsip keadilan sosial.

Ia menyampaikan bahwa sektor industri manufaktur memiliki kapasitas besar untuk menyediakan kesempatan kerja setara bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

"Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian berkomitmen memastikan agar pembangunan industri juga membuka ruang partisipasi yang setara bagi penyandang disabilitas, sehingga mereka dapat berkontribusi secara produktif dan mandiri dalam ekosistem industri nasional," ungkapnya.

Kolaborasi Kemenperin dan Top Loker

Sebagai bentuk nyata dari komitmen tersebut, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin bekerja sama dengan startup Top Loker.

Kerja sama ini diwujudkan melalui kegiatan bertajuk Pengembangan Inklusi Sektor Manufaktur untuk Disabilitas.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang pada 28 Januari 2026.

Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita, menyatakan bahwa kolaborasi ini menjadi langkah konkret dalam memperluas akses kerja inklusif bagi penyandang disabilitas di sektor industri strategis.

"Kami bersama startup Top Loker menginisiasi kegiatan ini sebagai wadah yang membuka kesempatan dan peluang bagi teman-teman disabilitas untuk dapat berkarya dan berpartisipasi di sektor industri," ia mengungkapkan.

Tantangan dan Harapan Akses Inklusif

Berdasarkan data Kemenperin hingga Agustus 2025, jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur mencapai 20,26 juta orang, atau sekitar 13,83 persen dari total tenaga kerja nasional.

Dengan pendekatan inklusif, sektor manufaktur diharapkan dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja penyandang disabilitas.

Namun, Reni Yanita juga mengakui masih ada tantangan dalam mendorong keterlibatan penyandang disabilitas di sektor manufaktur.

Beberapa tantangan tersebut antara lain keterbatasan akses informasi kerja, kesenjangan kompetensi dengan kebutuhan industri, serta lingkungan kerja yang belum sepenuhnya inklusif.

"Kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan serapan tenaga kerja penyandang disabilitas di sektor industri sekaligus membuka akses kerja sama antara Sekolah Luar Biasa dengan industri manufaktur," ungkap Reni.

Melalui kegiatan ini, peserta didik disabilitas tingkat SMA atau sederajat dibekali pemahaman mengenai kebutuhan kompetensi industri agar mampu menyesuaikan diri dengan standar dan ekspektasi dunia kerja.

Program ini juga bertujuan membangun jejaring kemitraan berkelanjutan antara satuan pendidikan disabilitas dan dunia usaha.

Penulis :
Arian Mesa