Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Kepala BPOM Tekankan Ketahanan Nasional Lewat Produksi Bahan Baku Obat Dalam Negeri

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Kepala BPOM Tekankan Ketahanan Nasional Lewat Produksi Bahan Baku Obat Dalam Negeri
Foto: Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Taruna Ikrar menjelaskan kebutuhan bahan baku obat di Kota Padang, Jumat 6/2/2026 (sumber: ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Pantau - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan bahan baku obat merupakan bagian penting dari ketahanan nasional.

Hal tersebut disampaikan Taruna Ikrar saat memberikan kuliah umum di Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, pada Jumat, 6 Februari 2026.

"(Pemenuhan) Kebutuhan bahan baku obat itu bagian dari ketahanan nasional. Sebab obat sejatinya merupakan kebutuhan dasar dan sangat penting," ungkapnya.

Ketergantungan Impor Masih Tinggi

Berdasarkan data BPOM, saat ini terdapat sekitar 15.267 nomor izin edar khusus untuk obat di Indonesia.

Namun, dari jumlah tersebut, 94 persen bahan bakunya masih diimpor dari luar negeri.

Hanya sekitar enam persen bahan baku obat yang diproduksi di dalam negeri, yaitu sekitar 42 item bahan baku obat.

Taruna menjelaskan bahwa berbeda dengan makanan yang bisa digantikan, kekurangan obat dapat membahayakan masyarakat.

Oleh karena itu, produksi bahan baku obat di dalam negeri dinilai sangat krusial untuk menjamin keberlanjutan dan keamanan pasokan obat.

Negara-negara yang menjadi sumber utama impor bahan baku obat Indonesia meliputi Belgia, China, Belanda, Jerman, dan Amerika Serikat (AS).

Hilirisasi dan Kolaborasi Jadi Solusi

Untuk mengurangi ketergantungan impor, Taruna Ikrar menyebutkan bahwa hilirisasi pembuatan antibiotik dari bahan alam merupakan salah satu solusi strategis.

Langkah ini dapat dilakukan secara bertahap untuk memperkuat industri farmasi nasional.

Selain itu, BPOM RI juga menggandeng berbagai perguruan tinggi dalam negeri untuk turut serta mendukung penguatan pemenuhan bahan baku obat nasional.

"Kami sudah merangkul 272 industri farmasi dan kampus untuk turut berkontribusi. Jika hasilnya nanti bagus, tentu bisa dihilirisasi sehingga bahan baku obat bisa semakin dikembangkan di dalam negeri," ia mengungkapkan.

Penulis :
Arian Mesa